"Mas Elaaaang! Nonton TV-nya udahan dulu, ayo makaaaaaan!!"
"Hih! Rewel banget sih."
"Wogh, kurang ajar. Aku bilangin ibu!"
"Heeeeh, jangaaaaan!"
"IBUUUUU!"
***
Tepat pukul tujuh, dan jam di ruang tamu berdentang menggema. Ruangan ini masih senyap, hanya denting sendok dan garpu beradu di atas piring berisi nasi goreng buatan ibu. Namun tiada satupun dari orang-orang di meja ini yang merasa perlu berkata-kata. Mendung masih membayangi wajah-wajah di depanku. Aku menghela nafas panjang. Ini begitu menyakitkan. Seolah lukanya mendarah daging, tak akan kering untuk kemudian sembuh. Tidak. Entah...
***
"Bu, aku pamit ya, itu udah disamperin Frankie. Doakan mid-test hari ini lancar!" Mas Elang mendekati ibu kemudian mengecup kedua pipinya. Ibu tersenyum dan mengiyakan. Aku mencebik padanya.
"Adeknya aku yang paling lucuuuu, masmu ini berangkat dulu ya! Demi masa depan Indonesia yang lebih baik!" katanya sambil memelukku. Aku terkejut tapi kemudian pura-pura jengkel.
"Ih apa sih peluk-peluk! Mas Elang bau kecut!"
"Hihihi, tambah imut deh kalo lagi ngambek gitu. Ya udah ya, aku berangkat. Bu, pamitin ke bapak, ya!" ia mengecup pipiku sekilas. Mas Frankie, teman dekat Mas Elang, ikut pamit pada ibu.
"Naik motornya hati-hati ya, Frank. Jangan bercanda di jalan," pesan ibu pada Mas Frankie.
"Ibu jangan ngomong gitu dong ke Frankie, Elang kan jadi malu!" canda Mas Elang, kemudian ia dan Mas Frankie tertawa. Ibu hanya geleng-geleng kepala.
Betapa menyebalkannya kakakku itu. Tapi tumben, kok dia mau peluk-peluk segala. Kupandangi punggungnya yang menjauh dengan perasaan sangsi. Ada sesuatu yang berpendar lemah... Dan aku tak tahu apa itu.
***
Ibu dan aku berpelukan gemetar saat melihat tayangan di televisi. Ayah diam, meremas koran yang tadi dibacanya. Di layar tersiar liputan langsung dari universitas kakakku, di mana aksi damai yang membuat mid-test-nya dibatalkan, berlangsung. Suasananya begitu mencekam dan menakutkan. Baku tembak terjadi di mana-mana. Mahasiswa terluka mulai berjatuhan. Hatiku tak karuan. Ya Tuhan, tolong... Tolong jaga Mas Elang.......
***
Sunyi tiada jengah-jengahnya menyelimuti rumah ini. Sunyi yang menyayat seperti belati. Melepas keheningan yang ganas untuk menyerang setiap sudut rumah. Untuk mengakar dalam relung hati penghuninya. Untuk memicu arus deras kenangan gelap yang menerbitkan embun di pelupuk mata ini.
Entah sudah berapa hari, atau mungkin bulan, atau bahkan tahun, yang telah terlewati sejak Mas Elang meninggalkan rumah ini untuk selamanya. Tapi toh aku tahu ia pergi untuk mendapat tempat yang lebih baik di sisi-Nya. Aku yakin ia bahagia.
Kubuka jendela agar ruangan ini tak pengap. Udara sejuk berhembus, membuatku berhenti sejenak untuk menikmati sepi asing yang mengambang. Keheningan merambati sekujur tubuhku, dingin. Kupandangi tiap jengkal kamar ini dengan beragam perasaan yang mengoyak hati. Kemudian aku mendekati meja di pojok kamar, masih terdapat buku-buku kepunyaannya di situ. Sambil menghela nafas berat, aku mengganti bunga yang mulai layu di vas kaca yang terletak di sudut meja. Menggantinya dengan bunga yang sama, hanya tentu saja masih segar dan merekah wangi.
Kamar Mas Elang dibiarkan seperti dulu. Walau membuat hati perih tiap kali ada yang melewatinya, namun tetap tidak ada seorangpun yang berniat melakukan apa-apa pada kamar itu. Tidak ada yang rela dan sampai hati. Tidak ada yang ingin menghapus perlahan sosok Mas Elang dari ingatan. Tidak ada. Tidak akan pernah ada...
2014,
Untuk Elang Mulia Lesmana
dan tiga korban Tragedi Trisakti lainnya.
dan tiga korban Tragedi Trisakti lainnya.
***
Rumah kosong sudah lama
ingin dihuni
adalah teman bicara, siapa saja
atau apa: jendela, kursi
atau bunga di meja
Sunyi menyayat seperti belati
Meminta darah yang mengalir
dari mimpi
(Rindu - Subagio Sastrowardoyo)
11.44 pm (besok UTS PPD astagaaa!)
Memutuskan untuk memanifestasikan segala perasaan yang timbul
atas musikalisasi yang begitu indah, sendu, dan kelam ini.
Fiksi, dengan referensi:
Gambar: weheartit.com
0 comments:
Posting Komentar