No one could ever know me
No one could ever see me
Seems you're the only one who knows what it's like to be me
Someone to face the day with, make it through all the rest with
Someone I'll always laugh with
Even at my worst, I'm best with you, yeah! --I'll Be There For You - The Rembrandts (Friends OST.)
Jumat, 27 Desember 2013
Labels:
Quotes
I. FUCKING. LOVE. THEM. TO. THE. BONES. 00.42
So no one told you life was gonna be this way
Your job's a joke, you're broke, your love life's D.O.A.
It's like you're always stuck in second gear
When it hasn't been your day, your week, your month, or even your year, but
I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cause you're there for me too...
Labels:
Life,
Movies/Series
Selasa, 24 Desember 2013
| source: weheartit.com |
"Kadangkala awan gemawan begitu banyaknya, terapung di segala tempat seperti perahu kapas, menyembunyikan cerita senja, sebuah peristiwa ketika matahari seperti bola yang melesak ke balik cakrawala, yang selalu mengingatkan manusia betapa keindahan yang sempurna hanyalah sesuatu yang semu saja, seperti kebahagiaan, yang lewat melintas dalam kenangan terbatas." --Sepotong Senja untuk Pacarku, hal. 76, SGA.
Labels:
Quotes
Senin, 23 Desember 2013
Last Night - Motion City Soundtrack 17.02
| source: weheartit.com |
Sinar matahari
menyelinap melalui jendela tanpa tirai. Mataku mengerjap perlahan. Sialan.
Kepalaku terasa berat sekali. Pening tak terkira. Kutegakkan tubuhku walau
sungguh rasanya susah sekali. Kembali mataku mengerjap. Rumahku hampir kosong.
Belasan botol dan kaleng bir berserakan di hadapanku. Kemudian kesadaran
menghantam keras ingatanku.
“Oh, fuck.”
****
“Nggak usah ngatur-ngatur kalo kamu
sendiri nggak mau diatur! I’m not one of
your stupid superheroes action figures yang bisa kamu mainin seenaknya!”
suaranya seakan melecetkan telingaku.
“Kamu itu CALON ISTRIKU, anggep aja
ini latihan! Istri yang baik nggak akan pernah melawan perintah suaminya,”
kataku sambil menahan api yang mulai bergejolak dalam dada. Ia menatapku dengan
sengit.
“Aku capek sama semua ini! Kamu
bilang kamu mau coba pelan-pelan berubah, tapi apa? Harusnya dari awal aku tahu
kamu cuman akan terus kayak gini!”
Aku bisa merasakan telingaku
benar-benar telah siap mengucurkan darah segar sebentar lagi. Kepalaku serasa
dibor. Hatiku bocor. Bukit kesabaranku mulai longsor. Kuambil kunci mobilku
tanpa berkata apa-apa. Tanpa menatap raut wajahnya.
“Mau ke mana kamu? Heh! MAU KE---
BAYU!”
Aku bahkan tak menoleh lagi.
Aku mengemudikan mobilku dengan hati yang gusar dan pikiran yang ambyar. Berkawankan letupan-letupan api dalam dada yang ternyata masih menjalar. Aku sendiri tak tahu ke mana arah tujuan, biar saja kemudi ini yang menuntun di manapun nanti kutemukan haluan.
“Satu tiket flight ke mana aja yang siap take off secepatnya,” kataku tanpa mendengarkan apapun itu yang sedang dikatakan oleh mbak-mbak di depanku. Satu jam kemudian aku sudah berada dalam pesawat yang entah menuju ke mana aku tak terlalu ingat. Penerbangan last-minute ini menguras kocek, tentu saja. Tetapi aku sudah benar-benar tak peduli. Langit di luar mulai gelap, mengantarkan diriku menuju lelap. Lelah…
Perlahan kubuka pintu pagar rumah ini. Rumah yang seharusnya menjadi surga kami nanti. Yang mungkin sudah tinggal ilusi. Tiga hari berlalu sejak prahara itu. Tiga hari aku memilih untuk pergi mengasingkan diri barang sebentar demi kebaikan kami. Setidaknya, itu yang kupikir.
Tidak ada yang berubah. Semua masih pada tempatnya semula. Yang berbeda adalah, hanya sepi yang menguar. Sunyi yang menyelimuti. Kujelajahi satu persatu ruangan rumah ini, dengan setitik harapan kutemukan sosoknya di salah satu sudut ruangan. Namun, tunggu sebentar. Ada yang tidak beres…
Seperti kilat yang menyambar, secepat itulah rasa sesak mencengkeram dadaku. Aku baru menyadari, tidak ada lagi satupun barang-barang miliknya di dalam rumah ini. Dengan perasaan panik yang mencekik, seisi rumah kuobrak-abrik. Dari bawah karpet, sampai langit-langit, nihil. Tak dapat kutemukan secercah ia di manapun. Tiada. Aku mulai merasa putus asa.
“Bayu…”
Aku terkesiap. Kemudian aku berlari menuju arah datangnya suara yang sudah sangat kukenal itu.
“Mona!” teriakku hampir tak percaya. Ia berdiri di depan pintu, dengan raut wajah yang tak dapat kujelaskan artinya. Tetapi, ia ada.
“Mon… Maafin aku, Mon…” hanya itu yang dapat kukatakan. Aku sudah terlalu lemas hingga tak dapat berpikir lagi. Namun, Mona hanya bergeming. Matanya redup dan sayu. Dia tak terlihat seperti biasanya, tak seperti yang kuingat.
Aku mendekatinya. Ingin sekali kurengkuh ia ke dalam satu pelukan panjang. Hangat. Tetapi saat aku hampir meraihnya, ia menghindar. Aku tertegun.
“Ini nggak mungkin berhasil, Bay…” katanya lirih. Aku diam saja. Mencari-cari dalam matanya sosok yang dulu kudekap erat dalam hati.
“Aku nggak bisa. KITA nggak bisa, Bay. Trust me…” ia berkata seolah dengan seluruh tenaga yang ia punya, hingga sekarang nafasnya tersengal. Hening di antara kami mulai ramai oleh rintik hujan yang turun di luar sana. Dan dalam kepalaku masih berkejaran segala harapan yang tinggal kemungkin-mungkinan. Aku tetap menatap matanya. Ia balas menatapku, kemudian kurasakan dalam hatiku tertancap sepisau perih.
Lalu ia mendekatiku pelan. Ia bisikkan ke telingaku kata-kata yang bahkan aku tak sanggup menanggung rasa sakit saat mencoba mencernanya. Setelah itu ia berbalik dan keluar dari rumah ini, mungkin untuk selamanya. Entah, aku tak mampu membayangkannya. Terlalu nyata, terlalu menoreh luka.
Dengan sisa tenaga yang masih kupunya, kuuikuti ia dari belakang. Hujan makin deras. Tubuhnya sudah kuyup oleh guyuran airmata langit. Aku tahu ia mencoba sekuat tenaga untuk tak menangis. Dapat kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Mungkin karena seluruh emosi yang mengoyak hatinya, atau karena dinginnya air hujan petang ini. Semuanya telah menjadi entah buatku.
Aku bahkan tak menoleh lagi.
Aku mengemudikan mobilku dengan hati yang gusar dan pikiran yang ambyar. Berkawankan letupan-letupan api dalam dada yang ternyata masih menjalar. Aku sendiri tak tahu ke mana arah tujuan, biar saja kemudi ini yang menuntun di manapun nanti kutemukan haluan.
“Satu tiket flight ke mana aja yang siap take off secepatnya,” kataku tanpa mendengarkan apapun itu yang sedang dikatakan oleh mbak-mbak di depanku. Satu jam kemudian aku sudah berada dalam pesawat yang entah menuju ke mana aku tak terlalu ingat. Penerbangan last-minute ini menguras kocek, tentu saja. Tetapi aku sudah benar-benar tak peduli. Langit di luar mulai gelap, mengantarkan diriku menuju lelap. Lelah…
****
Perlahan kubuka pintu pagar rumah ini. Rumah yang seharusnya menjadi surga kami nanti. Yang mungkin sudah tinggal ilusi. Tiga hari berlalu sejak prahara itu. Tiga hari aku memilih untuk pergi mengasingkan diri barang sebentar demi kebaikan kami. Setidaknya, itu yang kupikir.
Tidak ada yang berubah. Semua masih pada tempatnya semula. Yang berbeda adalah, hanya sepi yang menguar. Sunyi yang menyelimuti. Kujelajahi satu persatu ruangan rumah ini, dengan setitik harapan kutemukan sosoknya di salah satu sudut ruangan. Namun, tunggu sebentar. Ada yang tidak beres…
Seperti kilat yang menyambar, secepat itulah rasa sesak mencengkeram dadaku. Aku baru menyadari, tidak ada lagi satupun barang-barang miliknya di dalam rumah ini. Dengan perasaan panik yang mencekik, seisi rumah kuobrak-abrik. Dari bawah karpet, sampai langit-langit, nihil. Tak dapat kutemukan secercah ia di manapun. Tiada. Aku mulai merasa putus asa.
“Bayu…”
Aku terkesiap. Kemudian aku berlari menuju arah datangnya suara yang sudah sangat kukenal itu.
“Mona!” teriakku hampir tak percaya. Ia berdiri di depan pintu, dengan raut wajah yang tak dapat kujelaskan artinya. Tetapi, ia ada.
“Mon… Maafin aku, Mon…” hanya itu yang dapat kukatakan. Aku sudah terlalu lemas hingga tak dapat berpikir lagi. Namun, Mona hanya bergeming. Matanya redup dan sayu. Dia tak terlihat seperti biasanya, tak seperti yang kuingat.
Aku mendekatinya. Ingin sekali kurengkuh ia ke dalam satu pelukan panjang. Hangat. Tetapi saat aku hampir meraihnya, ia menghindar. Aku tertegun.
“Ini nggak mungkin berhasil, Bay…” katanya lirih. Aku diam saja. Mencari-cari dalam matanya sosok yang dulu kudekap erat dalam hati.
“Aku nggak bisa. KITA nggak bisa, Bay. Trust me…” ia berkata seolah dengan seluruh tenaga yang ia punya, hingga sekarang nafasnya tersengal. Hening di antara kami mulai ramai oleh rintik hujan yang turun di luar sana. Dan dalam kepalaku masih berkejaran segala harapan yang tinggal kemungkin-mungkinan. Aku tetap menatap matanya. Ia balas menatapku, kemudian kurasakan dalam hatiku tertancap sepisau perih.
Lalu ia mendekatiku pelan. Ia bisikkan ke telingaku kata-kata yang bahkan aku tak sanggup menanggung rasa sakit saat mencoba mencernanya. Setelah itu ia berbalik dan keluar dari rumah ini, mungkin untuk selamanya. Entah, aku tak mampu membayangkannya. Terlalu nyata, terlalu menoreh luka.
Dengan sisa tenaga yang masih kupunya, kuuikuti ia dari belakang. Hujan makin deras. Tubuhnya sudah kuyup oleh guyuran airmata langit. Aku tahu ia mencoba sekuat tenaga untuk tak menangis. Dapat kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Mungkin karena seluruh emosi yang mengoyak hatinya, atau karena dinginnya air hujan petang ini. Semuanya telah menjadi entah buatku.
Tiba-tiba ia berbalik, menghadapiku yang sama-sama basah. Yang sama-sama pasrah. Matanya menatap ke dalam mataku. Lama. Tak ia pedulikan hujan yang makin hebat menderas.
“I can’t compete with all your damn ideas. This isn’t working out for you and me…”
Diam, sayang. Diam. Jangan kau teruskan.
“The truth is I’m too tired to play pretend. This is goodbye, this is the end.”
****
Aku masih di sini setelah terkapar
semalaman berusaha mengenyahkan bayangan kita. Berusaha menenggelamkan kenangan
dalam berbotol-botol bir yang kutenggak. Mengharap semua ingatan menguap
bersama kepulan asap rokok yang kuisap. Aku masih di sini, mengunyah pahit
ironi semalam tadi.
23/12/2013
Labels:
#30HariPersonalSoundtrack,
Love
Sabtu, 21 Desember 2013
masalah terberatku muah 12.42
| pas nonton SO7 wingi kaeeee |
| sakdurunge ujiyan Structure (((merinding))) |
| bar rampung Structure... |
| dan oleh A! uwuwuwuwuw |
| gaya berfoto yang lagi ngehits nek jarene Tyara |
GK1 203,
20/12/2013
Denna, Dian, Nung, featuring Lizzani.
Hwoiya, tengkyu Lizzani sing wis njajakke kita semuwa nganti kemlekeren nang SS~
Selasa, 17 Desember 2013
Di Atas Kertas 22.10
| source: weheartit.com |
Dengan ketajaman pena ini,
kuubah sepi menjadi sunyi,
merupa ilusi,
mewujud mimpi.
Labels:
Tidbits and whatnots.
| source: weheartit.com |
Sejatinya,
kamu tiada lebih dari seorang bangsat
bejat
keparat
bangsat bejat keparat yang sebegitu giat
menyuntikkan ke dalam urat nadiku
jelaga hitam pekat.
Labels:
Tidbits and whatnots.
dari dirimu 21.49
| source: weheartit.com |
dari tubuhmu mengakar kesepian
dari kepalamu merimbun peluh kerinduan
dari dadamu mewabah kegelisahan
kemudian dari bibirmu mengurai
pedih kenangan
kau tenggelam
dalam samudera kelam
terteguk senja temaram
lalu hilang
bagai termangsa binatang jalang
jauh,
jauh sebelumnya
dari dirimu menguar dusta
yang tak henti-hentinya
Labels:
Tidbits and whatnots.
Minggu, 15 Desember 2013
FIFTH TIME ~~~\o/ 16.01
Tau dong tau dong tau dong yang dimaksud kelima kalinya itu apaaaaaa... (Kabeh foto muk tak jupuk seko Twitter)
![]() |
| WIUWIUWIUUUUUW~~~ SHEILA ON 7 LIVE IN CONCERT~! 8'D |
Tadi malem adalah yang kelima kalinya aku bisa nonton mereka manggung dengan bergelora. Hiks... Terharu. Aku nontonnya sama Dian & Nung. Aslinya sik meh mangkat bar maghrib eetapi udan. Ya ngenteni bentar lah biar agak terang. Akhirnya aku mangkat jam 7 nyamperin Nung terus njemput Dian. Berangkat lah ke GOR UNY. Oke, ada sesuatu hal yang bikin ngganjel dan nggresula. Ehm ehmmmm yaitu adalah... SISTEM PARKIRNYA.
Opini aja ya ini, opini kita bertiga. Sistem parkir event ini sangat-sangat mengecewakan. Ya mungkin maksudnya baik, biar lebih teratur. Tapi yang mau parkir keburu mati kalo harus ngantri lama biyanget cuman buat parkir. Ya lo bayangin ajaaaaaaaaa butuh waktu 1 jam cuman buat ngurusin parkir! Serius. Aku sampe di GOR jam 19.41, dan sampe di antrian gate masuk itu jam 20.41. Ffffaaaaaak.
Asudahlah ya yang penting bisa khidmat nonton Sheila On 7 perform dengan awesome-nya. Tentu saja seperti biyasa, njondhil-njondhil nganti mrotholi awak e. Nganti serak suwarane. Nganti ados kemringet. Nganti seluruh jiwa raga ini bergetar merinding. We love you, SO7! :">
![]() | |||
| The glorious crowd. I was there!!! |
Songlist tadi malem adalaaaaaaaah....
- Pejantan Tangguh (tapi...aku betina :< )
- Bertahan Di Sana (beb awas koe nek ra iso tahan sue [apaneeeee], tak pegat sisan)
- J.A.P, Buat Aku Tersenyum, & Sephia medley (KAREPMU I PIE NYET? JARE NGEJAK JADIAN, NJUR NJALUK TAK BAHAGIAKKE TAK GAWE MESEM, KOK NJUR AKU JEBULE MUNG KEKASIH GELAP?!)
- Betapa (oh. koe wis due anyar. oh.)
- Tunggu Aku Di Jakarta (lagu sing arang dinyanyekke ik! wuhuihuihuiii!)
- Bapak-Bapak (so sweet banget nek aku ditembung nggo lagu iki. muah)
- Seandainya (JIE SING LDR JIEEEE. PEDHOT WAE!)
- Mudah Saja (nyoh obongen atiku sisan mas)
- Bila Kau Tak Di Sampingku (dasar posesip! HIH)
- Melompat Lebih Tinggi (njondhil nganti remuk sikile!!!)
- Saat Aku Lanjut Usia (iya iya, suk kamu tetap terseksi og beb buat aku walo wis uwanen)
- Hari Bersamanya (Gusti tulungono...meh apel ik)
- Seberapa Pantas (jingan lagukuuu...tep kudu mimbik-mimbik)
- Musim Yang Baik (lagu anyar. tumben ora sing Canggung. semoga cepet kelar album anyar eee)
- Terimakasih Bijaksana (kaw tetaph eang termuwach di hatie :*)
- Dan (syahdu sumpeee... iki tekan reff pisanan sing nyanyi penonton e, GOR UNY menggemaaaa :'D )
- Kita (DAN KAU DESAHKAAAAN KATA CINTAAA UH AH UH AH)
![]() |
| pas konsere rampung. we want more. ra pengen bali :( |
BUAHAHAHAHAHAHAKUBAHAGIYAAAAA!!!! Totalitas pokokmen! Opo meneh le nonton bareng konco-konco. Tambah khusyuk tambah nyesek tambah le euforiaa... Phewww. Sayang ora ono encore. Padahal wis do bengak bengok "LAGI LAGI LAGI!". Tur mas Duta, Adam, Eross, karo Brian do bagi-bagi stick, pick gitar, karo air mineral berkerdus-kerdus loooo. Hahahahah diuncal-uncalke ngono lah.
Bar metu seko GOR, awakdewe wes dehidrasi. Njur memutuskan untuk nongkrong Indomaret Point dilit nggo wedangan. Eeee jebul kebak dan ternyata ana warung jus sing isih bukak. Sakjane le bukak mung tekan jam rolas dan pas kita tekan warung e kui wis jam 23.55 tur karo mase sing apikan tep oleh tuku dan nongkrong-nongkrong sedilit. Aku pesen jus mangga keju. Wueeeeenak tur akeh dab! Mas-mase yo apikan tenan tur penak dijak guyon. Tapi tapi tapi... Nang jusku ono suwekan plastik e. Njur aku omong mase, sakjane mung guyon wong aku yo ramasalah. Eeeh mah dihratisi ro mase. Muehehehehe lumayan. Wis wareg, jus e mantep, jebulane hratis, kurang pie to. Nuwun banget lo mas huehuehue.
Wis wareg mlumah, bali lah kita... Dian sing awale meh nginep nggonku mah rasido, soale ngancani Nung sing dewe nang omah. Okedeh kita pulang dengan perasaan bahagia membuncah di dalam dada. Matunuwun Sheila On 7 untuk malam
ini, malam sebelum-sebelumnya, dan malam-malam yang akan datang! Aku tep
akan selalu setia teko nang konser kaliyaaaaaan! Fufufufufu~ See you next time! :*
Kamis, 12 Desember 2013
some weird shits I wrote on my notes nek aku lagi suntuk nang kelas 22.34
1.
Author's note:
(((PREK BANGEEEEEEEET)))
Lantang pekikmu mendera kepalaku2.
Seluruh eranganmu menulikan telingaku
Peluh tubuhmu membanjiri ruang tamu rumahku
Nanar tatapmu menyakiti penglihatanku
Ketiadaan akan kamu lah
Satu yang benar-benar aku tunggu
Bosan penatku merangkai kata tentang senja3.
Jenuh kepalaku memusingkan apa yang kalian sebut 'cinta'
Muak aku mengeja namamu yang hanya akan menoreh luka
Cukup, sudahi semua
Lelah aku tenggelam dalam dusta
Susi4.
terjatuh sampai lecet lututnya
sampai pecah kepalanya
sampai habis darahnya
merahsampai mati ia.
Bagaimana menghapus kamu?5.
Yang bercokol kuat dalam kalbuBagaimana menghapus kamu?
Yang tak henti menyiksa aku
Yang tak mungkin pudar oleh waktu
Bagaimana mengubahmu jadi abu?
Bagaimana?
Bagaimana?Bagaimana melepas kamu?
(22/10/2013. Kelas PAI)
Kamu maling6.
Kamu copet
Kamu pencuri
Kamu menjarah waktuku
Sampai kandas
Sampai tak bersisa
Sampai kamu mengendap dalam kepala
(22/10/2013. Kelas PAI)
Jiwamu kosong7.
Pikiranmu bolong
Mulutmu menggonggong
Hatimu minta tolong
Sudah
Biar hilang arah
Biar tak terjamah
Biar berdarah
Biar kamu musnah
(22/10/2013. Kelas PAI)
Aku bosan merindukanmu
Aku butuh waktu
Agar aku terbiasa jauh darimu
Agar aku terbiasa sendiri
Jauh dari perkara-perkara hati
Jauh dari mencintaimu yang hanya jadi ilusi
Jauh dari kamu
Yang telah meremuk redamkan hati ini
(25/10/2013)
Author's note:
(((PREK BANGEEEEEEEET)))
Labels:
Tidbits and whatnots.
halo. 22.18
aku tak pernah
benar-benar berhenti
menginginkan hatimu.
tapi
apa lagi yang bisa kulakukan?
kamu tak lebih dari
asulagipula kamu telah kembali ke pelukannya
pelukan ia
lonte labil itu.
25/10/2013
Labels:
Tidbits and whatnots.
Senin, 09 Desember 2013
Menyesap secangkir kopi, menatap kosong layar televisi, menyuntikkan satu galon ilusi ke dalam urat nadi.
Labels:
Tidbits and whatnots.
Yellow - Coldplay 21.21
| source: weheartit.com |
Hanya di malam-malam tertentu aku mempunyai waktu untuk berbaring di
atas rerumputan, memandangi langit malam yang membentang. Mencari-cari
rasi bintang dengan telunjuk tangan.
Malam ini, aku kembali berbaring di rerumputan. Bulan tidak nampak,
padahal mendung pun tidak. Tapi bintang-bintang bertebar, tak terbayang
jumlahnya. Kesemuanya tampak lebih cerah dan terang daripada biasanya.
Kupandangi mereka dalam diam. Earphone di telingaku mengalunkan lagu lembut, kesukaanku. Membuatku tak ingin beranjak dari tempat ini, dari malam ini.
Udara dingin, menusuk pori-pori kulitku. Aku rapatkan jaket yang kukenakan. Malam mulai larut.
"Hei," terdengar suara canggung seseorang. Aku terkesiap. Siapa yang datang ke tempat ini selain aku? Kucopot earphone dan buru-buru bangkit untuk melihat.
Dia.
"Ka-kamu?" kataku ragu. Aku tidak mempercayai ini. Apakah otakku
sudah mulai konslet karena terlalu sering berkhayal? Tapi… Tapi…
Dia tersenyum. Nafasku tertahan. Dia berjalan mendekatiku, lalu duduk
tepat di sampingku. Aku masih belum percaya. Ini begitu tidak mungkin.
Ini begitu…
Dia mendongak. “Bintangnya kok lebih terang dari biasanya, ya?”
Aku masih menatapnya, sangsi. Ia menoleh. Matanya yang indah menatapku.
“Iya nggak sih?” tanyanya lagi. Dahinya berkerut.
"Iya, lebih terang," akhirnya aku menjawab. Lirih. Dan dia tertawa pelan.
“I believe they shine for you,” katanya sambil merebahkan
diri di atas rumput. Mataku melebar. Maksudnya apa? Dia tersenyum lalu
menambahkan, “Sini, rebahan lagi.”
Aku menurut saja.
Dia sepertinya asyik memandangi langit. Aku memperhatikannya.
Sepertinya dia tidak menyadari. Terlalu sibuk dengan entah apa yang ada
dalam pikirannya. Aku menghela nafas. Dia masih seperti dulu. Selalu tak
terduga. Selalu tak tertebak. Dia begitu…misterius. Dan dari semuanya,
ini yang paling mengagetkan. Seorang dia, ada di sini. Di sampingku. Dia
nyata, hidup, bernafas... Dia ada.
Tiba-tiba dia menoleh padaku. Mata kami bertemu. Satu detik, dua detik, tiga detik… Rasanya seperti selamanya.
Dengan sebegitu mengejutkannya dia mulai bersenandung.
"Your skin.. Oh yeah, your skin and bones turn into something
beautiful…" senyumnya melebar. Jantungku berdebar entah karena apa. Aku
tak mampu berpikir saat ini.
“Do you know…" lanjutnya. Sialan, jantungku makin kencang saja hentakannya.
“You know I love you so...” tutupnya. Mata kami masih saling menatap.
written over a year ago.
Labels:
#30HariPersonalSoundtrack,
Drabbles
The Saltwater Room - Owl City 20.57
| source: weheartit.com |
Kamu dan aku sama-sama keras kepala. Sangat. Kamu berpendirian teguh,
aku egois. Aku kerap cemberut dan merengut, bahkan ngambek padamu
setelah kita berdua bertengkar hebat. Kemudian nanti kita berdua akan
sama-sama menggerutu pada satu sama lain sebelum menuruti ego dan gengsi
yang telah menggerogoti otak. Aku pergi, kamu diam di sana. Menunggu
kepalaku dingin dan hatiku tenang. Kamu memang selalu lebih pengertian.
Kita ke mana-mana bersama. Makan, hangout, ke bioskop, ke arena games,
bahkan sekedar bersepeda di malam hari. Katamu aku menyenangkan.
Katamu, kamu menyukaiku. Yang tidak kamu tahu, aku sudah memperhatikanmu
bahkan sejak kita belum saling mengenal. Yang juga tidak kamu tahu,
aku……
Aku selalu berkata padamu, “Sehari penuh sama kamu itu masih nggak
cukup!” Dan kamu akan tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Aku suka
sekali melihat caramu tertawa. Bagaimana tubuhmu terguncang saat tawamu
meledak. Terlebih saat bibirmu tersenyum lebar, memperlihatkan sederet
gigi rapi dan besar-besar itu. Kemudian kamu akan berkata;
"Kalau nggak sama kamu, aku nggak pernah ngerasa ada di ‘rumah’, Ru."
Dahiku akan berkerut bersamaan dengan munculnya pertanyan ‘Itu
korelasinya di mana ya?’ dalam kepala. Tapi aku tidak akan memperpanjang
pembicaraan, karena yang barusan saja sudah cukup membuatku tidak
karuan.
Kesukaan kita adalah berjalan menyusuri pasir pantai di malam hari.
Walaupun kita berdua harus selalu mencuri-curi waktu dan kesempatan.
Tetapi justru di situlah asyiknya. Lalu kita akan berlarian sambil
berteriak tak peduli sebelum akhirnya merasa lelah dan memutuskan untuk
duduk sembari memandangi bintang-bintang yang tak lagi ada di atas sana.
Kemudian kamu akan menarikku berdiri dan menggandeng tanganku menuju
sebuah tiang lampu yang berpendar lemah. Dengan menggenggam erat
tanganku sambil sesekali meremasnya. Hangat, katamu. Aku diam saja. Dan
kita akan berdansa dalam hening. Di bawah pendar lampu jingga itu. Kamu
mendekapku, lalu menyenandungkan sebuah lagu manis.
"Apa sih yang diperlukan buat memecahkan semua pertanda sayang ini?" tanyaku pelan. Kamu masih bersenandung.
"Cuma perlu waktu."
"Kalau kita lagi nggak bareng, apa yang kamu pikirin?" tanyaku lagi.
"Hmm.. ‘Kalau ini yang kusebut rumah, kenapa rasanya hampa sekali?’” jawabmu. Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan segenap keyakinan untuk sekali lagi bertanya.
"So tell me darling, do you wish we’d fall in love?"
"All the time. All. The. Time."
Dan kita menari sampai pagi.
written over a year ago.
Labels:
#30HariPersonalSoundtrack,
Drabbles
Life is Like A Boat - Rie Fu 20.12
| source: weheartit.com |
Aku sendiri. Iya, sendirian saja. Tak ada satu pun orang yang
benar-benar mengenalku. Tak ada yang merasa perlu repot-repot memahami
aku juga. Tak ada yang peduli. Kadang rasanya hampa. Tapi terkadang
memang aku yang ingin pergi, ingin sendiri. Dan saat aku membutuhkan
seseorang untuk menghibur dan menguatkan, siapa yang akan melakukannya?
Perahu takdir… Kita semua berlayar di atasnya. Ombak terus menghantam
dan kita tidak akan mungkin menghindarinya. Tapi jika kita kehilangan
arah, aku percaya arus akan membawa kita menuju suatu tempat yang baru.
Hari yang baru.
Aku ingin, kelak mempunyai seseorang, yang dengan memandangnya saja
aku merasa sejuk. Yang akan ada untuk selalu menemaniku berlayar menuju
tempat-tempat baru. Menjagaku, menguatkanku.
Aku maunya sih….orangnya
kamoh (ɔˇ³Ë‡)É”
written about a year ago.
Labels:
#30HariPersonalSoundtrack,
Drabbles
On Melancholy Hill - Gorillaz 19.25
| source: weheartit.com |
Lihat ke hari-hari kita dahulu. Penuh keriaan dan tawa. Hari di mana kita berdua bersama-sama memimpikan segala hil yang mustahal. Yang bahkan terdengar begitu bodoh karena, yah, terlalu tidak mungkin! Namun kita tidak peduli. Ini mimpi punya kita.
Kita berbagi mimpi. Cita. Asa. Matamu yang berbinar-binar tiap kamu
mengucapkan semua itu. Tapi… Hal-hal yang kamu inginkan, mungkin tidak
akan bisa kamu dapatkan semuanya. Tapi kamu selalu bisa mendapatkanku.
Itu yang pasti.
Ah.
Lama kita tak bersua. Sudah berapa ratus juta detik? Entahlah, kamu
selalu tahu aku tak pandai dengan angka. Dahulu, kamu selalu menoyor
kepalaku saat otakku bekerja lambat memproses les privat darimu. Hmm.
Betapa sesak relung dadaku karena mengingatmu. Merindu, tepatnya. Setiap
senti dari tubuhku begitu rindu akan dekapan lenganmu yang kokoh. Yang
(dulu) selalu merengkuhku lembut saat aku merasa dunia sedang
mengecamku. Begitu rindu akan harum aroma tubuhmu yang khas itu. Aku
selalu tahan berlama-lama menghirup aromamu.
Hanya beberapa patah kata kau ucap. Lagi-lagi, tentang mimpi. Aku
tertawa renyah mendengar perkataanmu. Namun aku tidak berkata apa-apa.
Setelah tawaku terhenti, yang ada hanya sunyi.
Aku hanya ingin kamu tahu, jika kelak nanti kamu tidak bisa meraih semua inginmu, then you can always come with me.
'Cause you are my medicine when you're close to me.
written about a year ago.
Labels:
#30HariPersonalSoundtrack,
Drabbles
Loving You - D'Cinnamons 19.23
| source: weheartit.com |
Yang kutunggu setiap hari adalah saat di mana kamu rela meluangkan sedikit waktu untuk sekedar memanggil namaku. Kadang bahkan kamu sempat melambai dan menghampiriku. Setiap kamu melakukan itu, tak ada yang bisa menandingi deru debaran jantungku. Kamu tahu betapa bahagianya aku? Karena telah sepanjang hari aku menantimu.
Kamu banyak bercerita kepadaku. Tentang gadis-gadis yang menyukaimu.
Dan segala yang mereka lakukan. Kamu begitu bersemangat saat
menceritakannya. Aku hanya bisa tersenyum menanggapi tingkahmu yang
seperti itu.
"Ruru!" panggilmu. Aku terkejut melihatmu berdiri di depan pintu rumahku. Kamu tersenyum lebar sekali. Bahagia. Ah... Sudah 2 tahun sejak aku jatuh cinta padamu, boy. Aku tertawa melihat senyumanmu yang konyol itu. Kamu pun terbahak. Kita berdua tawa. Indah.
"Aku jatuh cinta, Ru…" katamu tiba-tiba. Tawaku terhenti. Aku memandangmu. Sesuatu terluka jauh di dalam sana.
"Aku jatuh cinta pada Fausha, Ru…" tambahmu lagi. Kamu memandangku meminta pendapat. Aku tersenyum. Kamu tersenyum. Tidak apa-apa, Ru.
"Kejar dong kalau begitu," kataku, masih tersenyum. Kamu
mengangguk-angguk penuh semangat. Lalu seperti biasa, cerita mulai
mengalir dari bibirmu yang lucu. Dan seperti biasanya pula, aku
mendengarkan segala ocehanmu itu. Sambil sesekali menggoda dan
menertawaimu. Memandang wajahmu yang seperti itu, sudah cukup.
Aku selalu di sini, namun kamu tak pernah tahu. Atau mungkin kamu
memang tak ingin repot-repot tahu. Tak apa. Aku pun belum ingin menyerah
pada keadaan. Tidak. Bagaimanapun… Tidak.
written about a year ago.
Labels:
#30HariPersonalSoundtrack,
Drabbles
#30HariPersonalSoundtrack 19.21
Hae. Jadi karena aku punya Tumblr yang khusus berisi karya-karyaku (((PREKJUH))) tapi aku lupa password-nya, isi di Tumblr itu bakal aku pindah ke sini aja biar gampang dan efisien. Aku juga mau posting beberapa (semacam) flash-fiction yang dulu sempet aku buat dengan tema #30HariPersonalSoundtrack yaaa. Terus kalo bisa aku mau nyoba nglanjutin juga mumpung ini masih terhitung awal bulan mehehehehe. Tur ya semoga tidak berakhir wacana thok :p
Labels:
#30HariPersonalSoundtrack
membunuh realita 19.04
| source: weheartit.com |
aku bersumpah
akan kubunuh realita
karena telah lancang
merenggutku dari dunia mimpiku
aku bersumpah
akan kubunuh realita
bukan dengan pisau belati
ataupun senapan angin
aku bersumpah
akan kubunuh realita
karena telah menebas habis semua mimpiku
tapi,
sore itu, realita mengalahkanku
kalah telak
dan aku pun terbangun dari tidur panjangku.
6 September 2009
Labels:
Tidbits and whatnots.
solilokui kontemplasi 10.32
| Source: weheartit.com |
Pada punggungmu aku merajut ribuan kenangan pekat yang masih erat menjerat.
Karena sesungguhnya segala ingatan akan lekat terpepat.
Hitam bayangmu masap di terik matahari yang masam.
Pun kuat cengkeramanmu kelak lesap termamah senja surya terbenam.
Kesunyian tidak menyerang, ia memeluk kencang.
Dan sepi yang tak mempecundangi, sepi yang sebenarnya menggerogoti.
Tolong. Biarkan aku tenggelam dalam lautan entah.
Biar aku lelap tertidur berselimut resah.
10.25 a.m
tepian kehilangan
9/12/2013
Labels:
Tidbits and whatnots.
Jumat, 06 Desember 2013
impulsive book-buying disorder WIUWIUWIUUUU 22.53
Bahaya yang sesungguh-sungguhnya bahaya adalah: jikalau Denna memasuki sebuah toko buku manapun itu. --seorang bakul gule yang enggan disebut namanya.JUST. CAN'T. RESIST. THE. TEMPTATION. TO. BUY. THEM. ALL. Like seriouslyyyyyyyyy T^T
Sebenernya nggak bahaya amat sih... Yang beneran bahaya itu kalo aku masuk ke toko buku tapi lagi rak cekel duit. HamodarwaeweDen. Soalnya mbuhpie aku sekarang susah banget menahan diri untuk nggak tuku buku kalo lagi hengot ke sebuah bookstore. Padahal dompet tipis nganti koyo iklan pembalut kae. Tur tetep wae pada akhirnya akan tetap membawa minimal satu buku ke kasir. (((AKU RAPUH)))
Contohnya aja baru kemaren Rabu tuh. Aku kan mampir ke belakang Malioboro, ke The Lucky Boomerang sama The Dunia Santai karena udah lama nggak ke sana. Sapa tau ada koleksi yahud, kan bisa nabung dulu buat beli. Tur wacana tinggal wacana... Akoh tergoda. Akoh rak kuwat. Akoh cungguh tak kuwasaaaah menahan segala cobaan hati iniiiiiiiiii~~~ *ditapuk sandal*
Lungkrah diri ini pokokmen begitu melihat koleksi buku-buku mereka yang tentu saja nambah. Dan............ Pulang dari sana aku tersaruk-saruk membawa dua buah buku baru. Tuhan, ampuni hamba. (Gambar di bawah tak jupuk seko huhel)
| LIMANGEWU SAJA MAMEN |
![]() |
| Nek sing iki telungpuluhewu --" |
Padahal aku ijeh due buku numpuk sing durung tak woco. Bukuku sing durung tak waca saiki dadi patbelas. BAYANGNO. DURUNG TAK WOCO KABEH WI NUMPUK NANG LEMARI. Ini buku-buku yang masih sabar menantiku memerawani mereka dengan bergairah. (Gambare yo seko huhel kabeh)
![]() |
| tuku 5 Mei 2013, wolungewu |
| tuku tanggal 30 Mei 2013 seharga selaweewu |
| tuku hari yang sama karo nduwure, telungpuluhlimaewu |
| tuku 8 Juli 2013 |
| podo nduwure |
![]() |
| podo nduwure, kado seko Tazkia :3 |
| tuku 18 Agustus 2013, patangpuluhewu |
| tuku 5 November 2013 |
| tuku 11 November 2013, limangewu |
![]() |
| podo nduwure |
| podo nduwure yoan |
| iki aku lali tanggale, ketoke sih Agustus. tur nyesek banget. aku tuku regane satusan, dan ternyata wingi nang The Dunia Santai ono sing secondhand tur regane patangpuluh. Sakkiiiit... |
Pfffff... Dan tentu saja akan terus bertambah. Rapopo ah sing penting tuku disik. Tur sedih je. Soyo gede kok waktu nggo moco soyo sudo. Kecepatan mocoku barang mengalami degradasi ki koyone. Suram tenan og growing up kiyi :| Eh tur opo mergo aku ne wae yo sing saiki malah overdosis mantengi laptop nggo nonton seabrek TV series luar negri (--,) Suk kapan-kapan aku meh nge-review TV series sing tak tonton ah nek ra memeng.
Yowes lah pokmen au kudu selalu bangga menjadi seorang bibliophile. Semoga aku tetep istiqomah di jalan ini, dan semoga pundi-pundi uang banyak mengalir kepada diriku untuk menyokong pergelutan jiwa dalam tuku-menuku buku ( '^')9
Uwopoooooo...
Labels:
Life










