Mungkinkah seseorang jatuh cinta pada kenangan? Sebegitu dalamnya,
sampai enggan untuk beranjak dari masa lalu?
Tiap aku berangkat ke tempat kerjaku, yang kulihat hanya kenangan itu.
Kenangan akan aku dan dia. Kota ini merupa saksi bisu memori kami berdua. Hampir
tiap jengkal pelosok kota ini sudah kami arungi berdua seakan tak ada tempat
yang belum pernah kami datangi bersama. Dan kurasa aku telah jatuh cinta pada
kenangan itu. Ini tak bisa kujelaskan dengan logika, namun benar adanya. Aku
tak bisa melihat yang lain. Masih selalu dia. Seakan aku telah terbutakan oleh
sosoknya. Betapa aku sesungguhnya telah putus asa dengan semua. Tetapi aku bisa
apa?
Hari itu hari Jumat. Dan seperti biasa seusai kerja aku mengemudikan
mobilku menuju suatu kafe. Suasana kafe itu sedang lenggang. Hanya ada
segelintir orang di sana. Aku memesan segelas Iced Peppermint Mocha kesukaanku,
kemudian duduk di pojok. Dan, di sanalah ia.
Seorang gadis dengan rambut shaggy
yang acak-acakan namun malah membuat wajahnya lebih manis dan mempesona. Ia
memakai kacamata kotak merah maroon dan mengenakan sweater berwarna biru tua. Alisnya berkerut menatap laptop di
depannya. Auranya seolah---tidak, auranya benar-benar menyedot seluruh
perhatianku. Aku hampir tak berkedip memandanginya.
Kemudian telah kutemukan diriku berjalan ke arahnya dengan membawa
segelas minumanku.
“Permisi,” aku berdehem. Ia mendongak dan menatapku bingung.
“Ya?”
“Can I sit here, and maybe have a little talk with you?” kataku,
tersenyum. Ia mengerjap, namun kemudian segera mengangguk.
“Yes, please,” dan ia balas tersenyum manis sekali.
Setelah itu yang aku tahu, aku beranjak dari jatuhku pada kenangan. Kurelakan kenangan itu mengambang untuk kemudian melayang jauh. Aku lepaskan. Aku ikhlaskan. Karena kini telah kutemukan kamu...