| Tokkoro |
The sun dawned on me
A thousand memories ago
River of light flows
The silence burns, as we dance slowly among the nightfireflies...
Di sudut fajar yang mulai menyingsing dalam pikiranku ini
tak kutemukan kau
yang seharusnya seperti biasa, menapaki solilokui tiada berujung
tetapi tidak serupa kemarau
tidak pula ada nada-nada samar pada memori yang bergegas
yang seharusnya seperti biasa, kau hembus perlahan namun selaras
Tetapi bukankah sudah kita bunuh Waktu kemarin senja?
Atau ingatanku mulai meluruh, seharusnya kita bersua esok lusa?
Apakah benar kita akan berangkat menjemput semesta bersama-sama?
Detik jam dinding di atas almari rupanya belum memejam
Berarti sunyi yang kudengar sedari tadi mungkin hanya sekedar alegori
menyaru sepi seperti bait-bait kosong dari
puisi yang kau goreskan pada angin timur
sebelum sempat kau cecap barang sedikit
terlanjur berlalu bersama bisik
yang kau teriakkan sembari menantang langit
Tetapi fajar malah tenggelam akan petang yang makin pekat
Dini hari tak mau enyah dan aku masih saja gelisah
karena seharusnya seperti biasa, kau ada,
tetapi tidak.
![]() |
Monster dalam kepalaku tak henti mencaci
memekakkan, teriak datang dari segala penjuru
hujan dan angin kencang tidak meluruhkan kelam yang membayangi,
menggerayangi
seluruh-Ku.
Nama.
Nama... Siapa?
Sebentar, kucari dulu ke sudut pikiranku yang gersang tak tersentuh hujan
Tetapi tiada, siapa?
Siapa?
Tawa riuh menggema dalam tempurung kepala
Entah aku sudah berjalan sejauh mana
Tanah masih basah
Tetes air masih setajam mata panah
terus saja melangkah dengan gelisah
mereka belum menyerah,
dan aku tak boleh lengah
Nama...
Gemerisik daun merupa orkestra
Membawa nomor lagu gelap
membungkam aksara, menyenandungkan lara
Siapa...
Mataku memicing ketika setangkai dahan menggores tangan
Rupanya berdarah
terbasuh hujan yang entah kapan reda
Kubiarkan air terus menghapus tetes-tetes merah
sejengkal dari luka yang terasa perih, tertera hitam
011
Siapa...?
Ada sesuatu di depan sana
Suara-suara
Beberapa sorot cahaya
menuju ke tempat aku berdiri
apakah aku harus lari
atau tetap di sini!?
Kemudian,
satu, dua, tiga
dengan cahaya yang nanar
empat bersamaku
sama-sama terpaku dan membeku.
Siapa namaku?
011
Nothingness descends upon me
as I bid farewell to my sanity
Would it be wrong if I let myself
drown in this empty sea
and never to see
again
the dusk and dawn...
Masa kecil kaurayakan dengan membaca.
Kepalamu berambutkan kata-kata.
Pernah aku bertanya: “Kenapa waktumu
kausia-siakan
dengan membaca?” Kau jawab ringan,
“Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata
yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan
yang tak terhingga banyaknya.”
Kau memang suka menyimak hujan.
Bahkan dalam kepalamu ada hujan
yang meracau sepanjang malam.
Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja
dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang,
“Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius
maupun yang ringan. Jangan bawakan saya
rencana-rencana besar masa depan.
Jangan bawakan saya kecemasan.”
Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama
sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan,
kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca,
bahkan tak tersentuh oleh penulisnya sendiri.
Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur
di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau
lebih suka tidur di antara buku-buku,
dan berkas-berkas yang berantakan.
Seakan mereka mau bicara, “Bukan kau
yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”
Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas.
Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras
di tengah hutan. Aku gelisah saja
sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan.
(1999)
![]() |
Waktu berdesing
selalu menolak untuk barang sebentar saja bertemu hening
pada tiap hela nafas yang mengembun
pada tiap kata yang kau eja di jendela kereta ini
Samar-samar kita mendengar detak waktu
sambil tidak melepas hangat
menguar dari jari jemari
dari dua pasang mata dan kata-kata
Ketika kemudian kekal yang sebentar
yang sekelebat namun selamanya
waktu terbungkam
oleh ciuman panjang tanpa jeda
yang fana tetapi abadi.
| weheartit.com |
Almost all the time, I just want to run, never to stop. I want to be where the lights are. To float within the wind and dust, to breathe that distinct coldness of the night, to disappear along with the shadow. I want to vanish as if I never ever even existed. By the dawn, I will be gone.
| weheartit.com |
Sembari aku berharap gelas ini pecahpanas menyengat setiap jengkal telapak tangan, bertanyaapakah kulitku terbakar dan berasap sampai ke tulang tiada kubedakan lagiSakit ini melindungi,sakit ragawi sebenar-benarnya, yang hakikiTelah penuh tubuhku dengan corak warna, satu dua tiga depamerah yang kutempuh senantiasaDetik fana menerka-nerka adakahkelak nanti semua hanya menjelma noktahyang tak tercatat pada getir gelisah di petang langit ruang ingatankuAtau anafora yang tak sedikit saja kukenali padahal Engkau telahmelukisnya pelan saat menghentikan laju semesta lagi-lagi dalam kepalakuRasa sakit adalah asing yang familiar jauh di sanasejauh jarak jemariku dan terang berpendarseperti kata-kata yang berlari dari puisisepertibayang hujan yang terdistorsioleh pekat tak kunjung masapMemori bersayap mengepak-ngepakmemimpikan terbang meninggalkan runyam pikiranteriring tembang sayup dalam repertoar pagelaran sanubari pahitdari gelas kopi kedua yang kusesap sedikit demi sedikit.
| weheartit.com |
Daun terakhir musim ini jatuh di sisi-Mu
tetapi udara masih hangat dan kita tetap
berbaring di sini
menggambar petang dengan pikiran bertautan
mewarna malam dengan bisik lirih yang terurai panjang
sebelum dingin Kau turunkan ke tempat ini
sebelum angin meniupkan Ketiadaan.
| weheartit.com |
Dapat kutangkap gemuruh darimu walau di kejauhan
merapal doa-doa kosong memekakkan
Hanyalah sekejap lagi, Puan!
kulihat matamu mulai menyerah dan berubah
merah
Rupanya mereka mengkhianatimu, benar?
Api beku menjalari sekujur tubuh
berkobar membakar seluruh-Mu
kan dahulu sudah kubilang, Puan!
sekali-kali jangan menantang kematian
sekali-kali jangan yang demikian!
| vi.sualize.us |
Cahaya turun ke beranda bukan rumah kita
Semalam adalah fana yang menyaru kekal sejenak
mengubur bayang-bayang bersama bunga layu hangus
terbakar matahari kemarin
Terang merambati beranda bukan rumah kita
kursi-kursi terisi
Kursi di beranda
rumahku, rumah ia
bukan rumah kita
| vi.sualize.us |
Seharusnya kutulis puisi ini
dengan kalimat di lorong-lorong sepi
kepada: kosong sebelum fajar
agar tersisa keabadian
yang berbisik perihal hari yang semakin petang
Tetapi cahaya bertebaran padahal tidak ada lentera
di sudut malam
Tetapi siapa yang bernyanyi seperti siut angin sore hari
"Sebentar, akan kupanggil hujan untuk turun dari kedua matamu."
deras.
seharusnya kutulis puisi ini buatmu
![]() |
uap harum masih dapat kucium dari sini sampai dalam rongga dada
rupanya secangkir kopi: milik siapa?
tiada yang mengaku atau mau tahu
kuangkat hati-hati dengan kedua tanganku
masih hangat, lalu: milik siapa?
tiba-tiba saja meledak tanpa suara
hanya senyap yang pekat
berubah menjadi bunga-bunga
berhamburan, di atas buku yang terbuka
di atas meja, lantas: milik siapa?
| vi.sualize.us |
daun menguning di jendela
mengetuk kaca
lalu bersabda
dalam tutur panjang tanpa jeda
tetapi sekali-kali TIDAK! teriakku
manusia menjelma gila
menjelma rimba
mewujud neraka
kemudian
modar koe! batinku
asu!
| vi.sualize.us |
menyapa hangat udara, kau tahu
akan membuat kepalamu pening dan
menggeliat di ujung ranjang
barangkali kau tinggalkan sejenak
tubuh telanjang kita
sembari bertanya
ada apa gerangan
dengan
wajah kelamku akan
hujan
tadi malam
| Tumblr |
Peluh penat menyaru asap
abu-abu menyelinap
ke dalam
mu sampai pepat
Bukankah kau hirup saja pekat
ini
tanpa berkata:
Mari minggat
dari sini
Tiada jawab yang mutlak! Diam!
Jangan berteriak!
bising
Diam. Jangan berteriak.
bisikmu?
| weheartit.com |
Mana kedengaran lagi
bahkan pikiran-pikiranku sendiri
tak kentara
Airmata malaikat berjuta-juta
menerpa tempurung kepala
Awan hitam pertanda petaka
atau surga?
Kok diam saja
Gemuruh meredam pekik swara
jantung dalam dada itu
Hujan tak kunjung berhenti.
| inesperkovic.com |
Tak kukenal sapa yang kau kirim waktu fajar,
beberapa saat saja setelah gigil dingin udara
Mengapa
hembus hangat nafasmu menguap
menjadi frasa tak terkata
Menjadi embun di jendela
Diksi pada metafora
yang sia-sia
Duka yang senantiasa ada.
Pada malam keseribu setelah kematian kekasihnya ia berhasil terbang dengan helai-helai sayap puisi yang mengepak kencang menghapus grafiti jelek di tembok depan rumah. Ia terus terbang, menyapu pemabuk di bar busuk sudut kota, menerjang perampok gang-gang buntu, meruntuhkan rumah bordil. Lonte-lonte menjerit pilu memekakkan selangkangan. Susi sakit hati lalu menantangnya duel di lapangan terbuka. Lelaki bersayap puisi tercekat, sesak habis kata.
Lonte itu.
Susi.
Memiliki wajah kekasihnya yang telah tiada.
| weheartit.com |
Dalam benakku Malam merupa lelaki dengan mata gelap
dan berjemari lincah memetik gitar. Menyenandungkan pelan
keheningan dalam nafas-nafas panjang
seperti desah udara yang tanpa cahaya.
Setiap senja hilang ia mengiringi tangis petang dengan melodi
berwarna oranye dari lampu-lampu remang sepanjang jalan.
Dan dalam benakku pula
menjelma aku, satu cahaya lampu remang yang ia nyanyikan
bersama kerlip kunang berterbangan dan hinggap di tiap
hela nafas Malam.
Nafasmu,
hangat menyapu permukaan
wajahku.
"Selamanya."