Tampilkan postingan dengan label Tidbits and whatnots.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tidbits and whatnots.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Agustus 2017

Tokkoro

The sun dawned on me
A thousand memories ago
River of light flows

Kamis, 01 Juni 2017

kepada lelaki yang tak pernah tidur

Di sudut fajar yang mulai menyingsing dalam pikiranku ini
tak kutemukan kau
yang seharusnya seperti biasa, menapaki solilokui tiada berujung
tetapi tidak serupa kemarau
tidak pula ada nada-nada samar pada memori yang bergegas
yang seharusnya seperti biasa, kau hembus perlahan namun selaras

Tetapi bukankah sudah kita bunuh Waktu kemarin senja?
Atau ingatanku mulai meluruh, seharusnya kita bersua esok lusa?
Apakah benar kita akan berangkat menjemput semesta bersama-sama?

Detik jam dinding di atas almari rupanya belum memejam
Berarti sunyi yang kudengar sedari tadi mungkin hanya sekedar alegori
menyaru sepi seperti bait-bait kosong dari
puisi yang kau goreskan pada angin timur
sebelum sempat kau cecap barang sedikit
terlanjur berlalu bersama bisik
yang kau teriakkan sembari menantang langit

Tetapi fajar malah tenggelam akan petang yang makin pekat
Dini hari tak mau enyah dan aku masih saja gelisah
karena seharusnya seperti biasa, kau ada,

tetapi tidak.

1/6/2017 || 3:30 a.m 
hmmm

Minggu, 09 Oktober 2016

Sebelas



Google

Monster dalam kepalaku tak henti mencaci
memekakkan, teriak datang dari segala penjuru
hujan dan angin kencang tidak meluruhkan kelam yang membayangi,
menggerayangi
seluruh-Ku.

Nama.
Nama... Siapa?
Sebentar, kucari dulu ke sudut pikiranku yang gersang tak tersentuh hujan
Tetapi tiada, siapa?
Siapa?
Tawa riuh menggema dalam tempurung kepala

Entah aku sudah berjalan sejauh mana
Tanah masih basah
Tetes air masih setajam mata panah
terus saja melangkah dengan gelisah
mereka belum menyerah,
dan aku tak boleh lengah

             Nama...

Gemerisik daun merupa orkestra
Membawa nomor lagu gelap
membungkam aksara, menyenandungkan lara

             Siapa...

Mataku memicing ketika setangkai dahan menggores tangan
Rupanya berdarah
terbasuh hujan yang entah kapan reda
Kubiarkan air terus menghapus tetes-tetes merah
sejengkal dari luka yang terasa perih, tertera hitam
011

             Siapa...?

Ada sesuatu di depan sana
Suara-suara
Beberapa sorot cahaya
menuju ke tempat aku berdiri
apakah aku harus lari
atau tetap di sini!?

Kemudian,
satu, dua, tiga
dengan cahaya yang nanar
empat bersamaku
sama-sama terpaku dan membeku.

                                                    Siapa namaku?
                                                    011




9/10/2016 || 11.40 p.m
Masih terpesona dengan serial Netflix
"Stranger Things"
yang awesome tumpah-tumpah.
This is for you, Eleven.
Be safe, wherever you are.

Kamis, 08 September 2016

overwhelmed


Nothingness descends upon me
as I bid farewell to my sanity
Would it be wrong if I let myself
drown in this empty sea
and never to see
again
the dusk and dawn...


8/9/2016
I feel nothing

Senin, 05 September 2016

surat malam ...




Surat Malam untuk Paska (Joko Pinurbo)
Masa kecil kaurayakan dengan membaca.
Kepalamu berambutkan kata-kata.
Pernah aku bertanya: “Kenapa waktumu

kausia-siakan
dengan membaca?” Kau jawab ringan,

“Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata
yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan
yang tak terhingga banyaknya.”

Kau memang suka menyimak hujan.

Bahkan dalam kepalamu ada hujan
yang meracau sepanjang malam.

Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja
dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang,
“Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius
maupun yang ringan. Jangan bawakan saya
rencana-rencana besar masa depan.
Jangan bawakan saya kecemasan.”


Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama

sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan,
kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca,
bahkan tak tersentuh oleh penulisnya sendiri.

Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur
di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau
lebih suka tidur di antara buku-buku,
dan berkas-berkas yang berantakan.

Seakan mereka mau bicara, “Bukan kau
yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”

Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas.
Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras

di tengah hutan. Aku gelisah saja
sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan.
(1999)




I keep picturing you
and your voice
your annoying voice
reading this to me
once upon a night
in a tomorrow
or perhaps,
in a false memory.

Sabtu, 03 September 2016

menghentikan waktu

Google

Waktu berdesing
selalu menolak untuk barang sebentar saja bertemu hening
pada tiap hela nafas yang mengembun
pada tiap kata yang kau eja di jendela kereta ini

Samar-samar kita mendengar detak waktu
sambil tidak melepas hangat
menguar dari jari jemari
dari dua pasang mata dan kata-kata

Ketika kemudian kekal yang sebentar
yang sekelebat namun selamanya
waktu terbungkam
oleh ciuman panjang tanpa jeda
yang fana tetapi abadi.



wandering thoughts
3/9/2016
09.05 p.m

Selasa, 29 Desember 2015

aku dilahirkan di sebuah pesta yang tak pernah selesai




weheartit.com

Almost all the time, I just want to run, never to stop. I want to be where the lights are. To float within the wind and dust, to breathe that distinct coldness of the night, to disappear along with the shadow. I want to vanish as if I never ever even existed. By the dawn, I will be gone.

"Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu."



*judul dan baris terakhir oleh Wiji Thukul.

Sabtu, 26 Desember 2015

Gelas

weheartit.com

Sembari aku berharap gelas ini pecah
panas menyengat setiap jengkal telapak tangan, bertanya
apakah kulitku terbakar dan berasap sampai ke tulang tiada kubedakan lagi
Sakit ini melindungi,
sakit ragawi sebenar-benarnya, yang hakiki
Telah penuh tubuhku dengan corak warna, satu dua tiga depa
merah yang kutempuh senantiasa

Detik fana menerka-nerka adakah
kelak nanti semua hanya menjelma noktah
yang tak tercatat pada getir gelisah di petang langit ruang ingatanku
Atau anafora yang tak sedikit saja kukenali padahal Engkau telah
melukisnya pelan saat menghentikan laju semesta lagi-lagi dalam kepalaku

Rasa sakit adalah asing yang familiar jauh di sana
sejauh jarak jemariku dan terang berpendar
seperti kata-kata yang berlari dari puisi
seperti
bayang hujan yang terdistorsi
oleh pekat tak kunjung masap
Memori bersayap mengepak-ngepak
memimpikan terbang meninggalkan runyam pikiran
teriring tembang sayup dalam repertoar pagelaran sanubari pahit
dari gelas kopi kedua yang kusesap sedikit demi sedikit.


17 Okt 2015

Rabu, 18 November 2015

opoh

weheartit.com

Daun terakhir musim ini jatuh di sisi-Mu
tetapi udara masih hangat dan kita tetap
berbaring di sini
menggambar petang dengan pikiran bertautan
mewarna malam dengan bisik lirih yang terurai panjang
sebelum dingin Kau turunkan ke tempat ini
sebelum angin meniupkan Ketiadaan.

I'd rather eat shits than listen to you.
17/11/2015

Minggu, 04 Oktober 2015

Puan, Jangan

weheartit.com

Dapat kutangkap gemuruh darimu walau di kejauhan
merapal doa-doa kosong memekakkan
Hanyalah sekejap lagi, Puan!
kulihat matamu mulai menyerah dan berubah
merah
Rupanya mereka mengkhianatimu, benar?
Api beku menjalari sekujur tubuh
berkobar membakar seluruh-Mu
kan dahulu sudah kubilang, Puan!
sekali-kali jangan menantang kematian
sekali-kali jangan yang demikian!



sembari mendengarkan Putih oleh Efek Rumah Kaca.

Rabu, 03 Juni 2015

beranda

vi.sualize.us

Cahaya turun ke beranda bukan rumah kita
Semalam adalah fana yang menyaru kekal sejenak
mengubur bayang-bayang bersama bunga layu hangus
terbakar matahari kemarin
Terang merambati beranda bukan rumah kita
kursi-kursi terisi
Kursi di beranda
rumahku, rumah ia
bukan rumah kita

Selasa, 02 Juni 2015

Seharusnya kutulis puisi ini

vi.sualize.us

Seharusnya kutulis puisi ini
dengan kalimat di lorong-lorong sepi
kepada: kosong sebelum fajar
agar tersisa keabadian
yang berbisik perihal hari yang semakin petang
Tetapi cahaya bertebaran padahal tidak ada lentera
di sudut malam
Tetapi siapa yang bernyanyi seperti siut angin sore hari
"Sebentar, akan kupanggil hujan untuk turun dari kedua matamu."
deras.

seharusnya kutulis puisi ini buatmu

Selasa, 05 Mei 2015

buku yang terbuka di atas meja

Google

uap harum masih dapat kucium dari sini sampai dalam rongga dada
rupanya secangkir kopi: milik siapa?
tiada yang mengaku atau mau tahu
kuangkat hati-hati dengan kedua tanganku
masih hangat, lalu: milik siapa?
tiba-tiba saja meledak tanpa suara
hanya senyap yang pekat
berubah menjadi bunga-bunga
berhamburan, di atas buku yang terbuka
di atas meja, lantas: milik siapa?

4.40 p.m

Rabu, 08 April 2015

mboh part sekian

vi.sualize.us

daun menguning di jendela
mengetuk kaca
lalu bersabda
dalam tutur panjang tanpa jeda
tetapi sekali-kali TIDAK! teriakku
manusia menjelma gila
menjelma rimba
mewujud neraka

kemudian

modar koe! batinku

asu!

8/4/2015

berdua semalam

vi.sualize.us


menyapa hangat udara, kau tahu
akan membuat kepalamu pening dan
menggeliat di ujung ranjang
barangkali kau tinggalkan sejenak
tubuh telanjang kita
sembari bertanya
ada apa gerangan
dengan
wajah kelamku akan
hujan
tadi malam

10/3/2015

Minggu, 15 Maret 2015

mboh

Tumblr

Peluh penat menyaru asap
abu-abu menyelinap
ke dalam
mu sampai pepat
Bukankah kau hirup saja pekat
ini
tanpa berkata:
Mari minggat
dari sini

Tiada jawab yang mutlak! Diam!
Jangan berteriak!

bising

Diam. Jangan berteriak.
bisikmu?


01.04 a.m.
 14/03/2015
di luar sini dingin sekali.

Kamis, 22 Januari 2015

tanpa judul klise

weheartit.com

Mana kedengaran lagi
bahkan pikiran-pikiranku sendiri
tak kentara
Airmata malaikat berjuta-juta
menerpa tempurung kepala
Awan hitam pertanda petaka
atau surga?
Kok diam saja

Gemuruh meredam pekik swara
jantung dalam dada itu


Hujan tak kunjung berhenti.

02.13 p.m
Menunggu hujan reda.
@ Perpusda Bantul

Sabtu, 03 Januari 2015

"Halo."

inesperkovic.com

Tak kukenal sapa yang kau kirim waktu fajar,
beberapa saat saja setelah gigil dingin udara
Mengapa
hembus hangat nafasmu menguap
menjadi frasa tak terkata
Menjadi embun di jendela
Diksi pada metafora
yang sia-sia
Duka yang senantiasa ada.







Sudah pagi.
4.20 a.m

Minggu, 14 Desember 2014

lelaki bersayap puisi

Google

Pada malam keseribu setelah kematian kekasihnya ia berhasil terbang dengan helai-helai sayap puisi yang mengepak kencang menghapus grafiti jelek di tembok depan rumah. Ia terus terbang, menyapu pemabuk di bar busuk sudut kota, menerjang perampok gang-gang buntu, meruntuhkan rumah bordil. Lonte-lonte menjerit pilu memekakkan selangkangan. Susi sakit hati lalu menantangnya duel di lapangan terbuka. Lelaki bersayap puisi tercekat, sesak habis kata.

Lonte itu.
Susi.


Memiliki wajah kekasihnya yang telah tiada.

Kelas Manajemen Pendidikan
12/12/2014

Senin, 13 Oktober 2014

---

weheartit.com


Dalam benakku Malam merupa lelaki dengan mata gelap
dan berjemari lincah memetik gitar. Menyenandungkan pelan
keheningan dalam nafas-nafas panjang
seperti desah udara yang tanpa cahaya.
Setiap senja hilang ia mengiringi tangis petang dengan melodi
berwarna oranye dari lampu-lampu remang sepanjang jalan.
Dan dalam benakku pula
menjelma aku, satu cahaya lampu remang yang ia nyanyikan
bersama kerlip kunang berterbangan dan hinggap di tiap
hela nafas Malam.
Nafasmu,
hangat menyapu permukaan
wajahku.

"Selamanya."

0:12 a.m
ditemani Kata - The Trees & The Wild.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates