Aku cen angel biyanget nek dikon nggawe sing jenenge esai atau makalah atau apalah sing mengutarakan fakta dan realita yang terjadi. Isaku mung gawe fiksi thok deh tenin. Nek kon gawe koyo ngono kui, niscaya mawut. Tapi aku iki yo lagi sinau kok ben iso gawe teks-teks faktuaaaaal :|
So here goes, fresh from the oven... Tugas mata kuliah umum Bahasa Indonesia yang mobal-mabul ra karuan :|||
BEN WAE LAH EMBOH.
PENGARUH
PUISI TERHADAP EMOSI DAN KONDISI PSIKOLOGIS SESEORANG
Faradienna Raushan
Fikri
Mahasiswi Pendidikan
Bahasa Inggris
Abstrak
Puisi merupakan salah
satu bentuk karya sastra. Dengan menggunakan media bahasa, puisi
mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang
imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Sedangkan emosi yang seringkali
pula disebut dengan afeksi, menurut ilmu psikologi merupakan salah satu dari
gejala jiwa manusia. Pemaknaan atas puisi apabila dilakukan secara tepat, akan
memberikan suatu perasaan baru, yang tentu saja positif, yang kemudian akan memicu
emosi, mempengaruhi jiwa manusia sehingga terbentuklah suatu motivasi.
Kata kunci: puisi, emosi, psikologi, jiwa.
Pendahuluan
“Puisi yang bermutu
merupakan suatu kontribusi bagi realitas. Dunia ini niscaya tidak akan sama
lagi ketika di dalamnya tercipta satu puisi yang bermutu. Puisi yang
berkualitas dapat mengubah bentuk semesta, membuat semua orang dan dunia di
sekitarnya mengerti makna dan arti penting dari puisi itu sendiri.” (Thomas,
1991:61).
“Puisi selalu
berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya.
(Rifaterre, 1978:1)
Puisi merupakan satu
bentuk karya sastra yang menggunakan kaidah estetika dan irama sehingga mempunyai
karakter yang puitis. Kepuitisan itu dapat dicapai dengan berbagai cara. Dengan
bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi,
aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa dan orkestrasi; dengan pemilihan kata
(diksi): bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya
bahasa, dan sebagainya. Maka dengan menerapkan dan menggunakan baik beberapa
maupun kesemuanya tadi, maka terciptalah suatu wujud keindahan dalam dunia
bahasa dan sastra.
Namun, pengertian
dari apa sebenarnya yang dimaksud puisi itu sendiri pun masihlah menjadi
pembahasan di kalangan literator Indonesia. Sampai sekarang orang masih tidak dapat
memberikan definisi yang jelas dan tepat apakah puisi itu, karena sesuai dengan
yang dikatakan Rifaterre tadi, sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan
dan perkembangan. Dengan ini dapat dikatakan bahwa puisi adalah bentuk sastra yang
istimewa.
Para penyair romantik
Inggris mempunya definisi yang berbeda-beda tentang puisi. Tetapi Shahnon Ahmad
(dalam Pradopo, 1987:7) mengemukakan bahwa bila unsur-unsur dari
pendapat-pendapat itu dipadukan, makan akan didapat garis-garis besar tentang
pengertian puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur tersebut berupa: emosi, imajinasi,
pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata-kata kiasan,
kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. Di situ dapat disimpulkan ada tiga
unsur yang pokok. Pertama, hal yang meliputi pemikiran, ide, atau emosi; kedua,
bentuknya; dan yang ketiga ialah kesannya.
Dengan menggunakan
media bahasa, puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang
merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Puisi itu
merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah
dalam wujud yang paling berkesan. (Pradopo, 1987:7).
Pengertian di atas
secara langsung memberikan pernyataan bahwa puisi dapat memberikan efek pada
emosi manusia. Emosi sendiri dapat diartikan sebagai tergugahnya perasaan yang
disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh. Emosi seringkali pula disebut
dengan afeksi, yang mana merupakan salah satu dari gejala jiwa manusia, atau
yang biasa dikenal sebagai psikologi.
Pembahasan
Pada zaman yang hampir
segalanya membuat manusia harus bergantung kepada teknologi ini rupanya masih
banyak sekali potensi-potensi generasi muda masa depan yang perlu digali dan
dikembangkan dalam hal linguistik. Apalagi banyak calon-calon pujangga dan
penyair di antara anak muda Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang memilih
untuk terus mengeksplorasi bakat mereka dengan memanifestasikannya dalam bentuk
karya-karya kontemporer, baik puisi maupun prosa atau karya sastra yang lainnya.
Namun sebelum
melakukan hal-hal di atas, tentu saja pada awalnya mereka mencari tahu-sengaja maupun tidak sengaja-tentang berbagai jenis
karya sastra yang ada. Pengetahuan tentang karya sastra ini bisa didapatkan
dari aktivitas paling krusial sebelum kita bisa menulis, yaitu tentu saja membaca.
Ya, dengan membaca, manusia menjadi tertarik dan ingin tahu, kemudian muncul
keinginan lain untuk ikut mengekspresikan dirinya dengan menggunakan media
bahasa.
Tetapi, pastilah tidak
lantas begitu saja manusia tertarik pada suatu karya sastra seperti puisi, dan
memutuskan untuk langsung berkarya. Tentunya ada alasan dan motif tertentu yang
mendasari keinginan tersebut. Alasan dan motif itu adalah terciptanya motivasi
dalam diri yang dipicu oleh emosi yang tersulut saat membaca puisi tertentu, puisi
yang bermutu.
Emosi ini sering
disebut pula sebagai afeksi dalam ilmu psikologi. Gejala afeksi atau perasaan
adalah kemampuan untuk merasakan suatu stimulus yang kita terima, termasuk di
dalamnya adalah perasaan sedih, senang, bosan, marah, benci, cinta, dan
sebagainya. (Sugihartono, dkk., 2013:2). Dalam konteks ini, stimulus yang
dimaksud adalah puisi. Mari kita lihat salah satu contoh dari Sapardi Djoko
Damono:
DALAM
DIRIKU
dalam
diriku mengalir sungai panjang,
darah
namanya;
dalam
diriku menggenang telaga merah,
sukma
namanya;
dalam
diriku meriak gelombang sukma,
hidup
namanya!
dan
karena hidup itu indah,
aku
menangis sepuas-puasnya
(Hujan
Bulan Juni, 2013:90)
Untuk mengerti maksud dari puisi itu diperlukan
adanya sebuah pemaknaan atau konkretisasi, karena puisi adalah suatu artefak
yang baru mempunyai makna apabila diberi makna oleh pembaca. Akan tetapi perlu
diingat bahwa dalam pemaknaan itu tidak boleh sembarangan dan semaunya.
Puisi Sapardi Djoko Damono di atas sungguhlah terasa
begitu kuat apabila dimaknai secara mendalam. Ia menawarkan suatu definisi baru
tentang jati diri manusia, dan menitikberatkan satu hal penting yang perlu kita
sadari, bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita merupakan anugerah Tuhan dan
sebetulnya jika kita melihat dari segala sudut pandang, maka kesemuanya itu adalah
indah adanya.
Memaknai Dalam Diriku tadi akan menumbuhkan rasa
syukur di dalam hati. Tidak hanya itu, perasaan lain juga dapat timbul. Salah
satunya adalah a moment of epiphany,
yaitu saat kita berada pada satu titik paling penting dalam hidup kita karena
kita mendapatkan sebuah pencerahan atau kesadaran akan hal-hal yang terjadi
pada kita selama ini.
Timbulnya gejolak emosi seperti inilah yang akan
menumbuhkan motivasi dalam diri manusia. Menumbuhkan keinginan untuk berubah, ke
arah yang lebih baik. Motivasi sangat diperlukan dan haruslah selalu dijaga
agar tetap berada dalam sisi positif, karena motivasi menjadi penentu perilaku
kita sehari-hari.
Lebih lagi, motivasi yang tumbuh karena emosi ini
akan membantu kita dalam dunia akademis. Goleman, dkk. (dalam DePorter, 2000)
menyatakan bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak kurang mampu “merekatkan”
pelajaran dalam ingatan. Suasana emosi yang positif atau menyenangkan dan negatif
atau tidak menyenangkan membawa pengaruh pada cara kerja struktur otak manusia
dan akan berpengaruh pula dalam proses dan hasil belajar.
Kesimpulan
Puisi memang
merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sangat istimewa. Puisi dapat
memberikan efek dan dampak yang begitu besar pada kondisi psikologis manusia
karena ia seringkali merupakan suatu pernyataan perasaan dan hasil pemikiran
manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama yang
bercampur-baur. Pemaknaan atas puisi apabila dilakukan secara tepat, akan
memberikan suatu perasaan baru, yang tentu saja positif, yang kemudian akan memicu
emosi, mempengaruhi jiwa kita sehingga terbentuklah suatu motivasi.
Maka, generasi muda
masa depan Indonesia sangat perlu memperbanyak khazanah sastra dan budaya
mereka dengan menggiatkan kegiatan membaca, khususnya membaca puisi karena
puisi adalah saluran untuk memanifestasikan segala emosi, imajinasi, dan mimpi
manusia melalui media bahasa. Namun tentunya tidak berarti kemudian membatasi
diri terhadap karya-karya lain selain puisi.
Daftar Pustaka
Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian
Puisi. Bulaksumur, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Sugihartono, dkk. 2013. Psikologi Pendidikan. Karangmalang,
Yogyakarta: UNY Press.
Damono, Sapardi Djoko. 2013. Hujan
Bulan Juni, Sepilihan Sajak. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.