 |
| Google |
L: Hmmm...
P: Ya?
L: Kamu tahu tidak, kalau...
P: Tidak!
L: Hah?
P: Mengapa kamu selalu seolah seperti berasumsi
bahwa aku mengetahui apapun itu
yang sedang berada dalam kepalamu,
menunggu untuk kamu utarakan padaku
dengan awalan "Kamu tahu tidak..."?
L: Kalau begitu maafkan aku.
Aku tidak bermaksud seperti itu.
P: Ya... Hmm.
L: Kamu tahu...
P: Sekali lagi, tidak!
L: Tetapi yang ini kamu sungguh tahu.
P: Memangnya apa?
L: Bahwa dari dulu aku memang bukanlah seseorang
yang mahir menggunakan kata-kata
untuk mengungkapkan pikiran dan maksudku.
P: Ya, lalu?
L: Lalu, hilangkanlah kerut di dahimu itu.
P: Tidak relevan.
L: Aku toh tidak membutuhkan relevansi untuk bisa
mengabadikan raut wajahmu yang tanpa cela.
P: Sekali lagi...
L: Apa?
P: Tidak relevan, bung!
L: Ada apa sih dengan kalian, kaum wanita sekarang ini.
Segalanya harus berlandas kombinasi rasa dan fakta yang ada.
Sejak kapan kalian memakai logika?
P: Hei, perhatikan perkataanmu!
L: Salahkah?
P: Tidak juga, sih. Tetapi sejak dulu pun
tidak semua wanita melupakan logika.
L: Aku tahu. Seperti kamu, misalnya.
P: Ya. Lalu mengapa kamu merasa perlu
mempertanyakan hal logika tadi
kalau kamu sudah tahu?
L: Ah.
P: Mengapa tersenyum seperti itu?
L: Ingin sekali rasanya kubungkam bibirmu itu
dengan ciuman panjang tanpa jeda.
P: Ah.
L: Kok 'ah' saja?
...
...
P: Habis sudah pernah.
--------
3/5/2015
4.38 a.m
ya, terdapat repetisi seperti yang telah ada pada catatan sebelumnya
mungkin memang sedang berkubang dalam tema dan kata-kata
seperti itu