Bukankah sudah kubilang, sejak setahun lalu aku jatuh? Dan kamu, hanya mengucap beberapa patah.
Malam itu aku bertemankan seorang sahabat, dan sebuah film. The Three Musketeers. Dan besok pagi, tepat 11 minggu berlalu sejak saat itu. Aku ingat betapa mengatakan (yah, teknisnya mengetikkan) kata-kata itu melegakan, membebaskan. Kamu tahu? Aku bahkan tidak menangis. Aku sendiri malah tidak bisa mendeskripsikan perasaan itu. Luas, bebas, terang. Tidak sakit, tidak. Betapa mengejutkan!
Tapi bukankah itu berarti semua yang kusimpan selama setahun itu terlalu melampaui batas? Karena setelah aku memberanikan diri untuk melepasnya, aku terbang. Lama. Cukup lama.
Aku tidak bisa bohong, dari dulu aku selalu bertanya kepada sendiri. “Kenapa harus kamu?”. Dan aku akan merutuk mengingat semua hal bodoh yang aku lakukan karena kamu. Aku tidak pernah membantahmu, kalau kau ingat semua hari yang kita lewati berdua. Aku akan patuh saat kau memintaku melakukan sesuatu. Bodoh sekali rasanya, setelah aku memikirkan hal itu lagi. Karena kamu tidak selalu mau melakukan apa yang aku ingin kamu untuk lakukan.
Kamu bodoh, idiot, dan lain-lain. Dan lain-lain. Tapi aku selalu ingat saat pertama kali kamu bicara padaku.
“Hahaha! Bodoh!”
Begitu katamu. Iya, aku memang bodoh. Mencintaimu membuatku menjadi orang terbodoh di dunia. Namun aku mengakui, aku orang bodoh yang bahagia. Denganmu aku belajar ikhlas. Kamu membuatku menyukai berbagai hal yang sebelumnya aku cemooh. Kamu memberi warna. Kamu memperlihatkan sisi dunia yang lain padaku. Dengan kamu aku belajar begitu banyak hal.
Aku tidak mengingkari bahwa kamu seorang bajingan. Well, kamu bangsat. Tapi aku suka. Karena aku sendiri will always be a lucky bastard. Aku beruntung bisa mengenal kamu sejauh ini. Aku bersyukur. Kamu, aku mensyukuri kamu. Berlebihan? Tidak.
Setahun aku mengenal kamu. Setahun aku bersama kamu. Time together is just never quite enough! Dulu kita tim yang solid. Aku selalu suka saat kamu menghampiriku, atau memanggil namaku, atau hanya sekedar menertawaiku. Aku suka saat kamu bercerita tentang mimpimu dengan menggebu-gebu. Aku suka matamu yang bersinar saat kamu bercerita tentang harimu. Aku suka melihat ekspresi betemu yang khas itu.
Aku menyayangi kekuranganmu. Aku mengagumi kelebihanmu.
Sejak setahun lalu, sejak kamu bahkan belum mengenal aku, kukatakan sekali lagi, aku sudah jatuh.
“Jatuh?”
Aku hanya bisa ber’cape deh’ saat kamu bereaksi seperti itu. Iya, jatuh, hei manusia geblek! Apakah kurang jelas? Fall for you! Tapi sepertinya kamu terlalu pintar untuk tidak mengerti, ya? Sekarang pun, aku belum beranjak dari jatuhku. Masih pada yang terakhir kali.
Aku sudah terbiasa dengan semuanya. Terlalu terbiasa. Sehingga aku hanya akan mengernyit atau menggerutu atau mengomel sebal. Ya gitu aja. Setiap melihatmu seperti itu, seperti tadi. Tapi aku tidak akan protes. Kalau itu membuatmu merasa bahagia, silakan saja. Sebisa mungkin aku akan mencoba ikut merasa bahagia untukmu. Walau di setiap perkataan ‘aku ikut bahagia’ ada hati yang terluka. Namun aku sudah terlalu mengerti kamu. Hei, kamu tidak terima aku berkata begitu? Nyatanya aku memang mengerti, dan selalu berusaha mengerti lebih jauh.
Yellow-nya Coldplay masih mengalun di Winamp-ku. Entah sudah yang keberapa kali lagu ini diputar. Aku tidak bosan. Karena setiap aku mendengar lagu ini, kamu yang terbayang.
“Look at the stars, look how they shine for you.”
Aku tidak peduli dengan apapun yang kamu lakukan. Karena aku (mencoba) mengerti apa alasanmu di setiap hal yang kamu lakukan. Dan aku tidak langsung men-judge semua tingkah kamu itu. Tidak apa. Santai saja. Take your time. Lakukan semua yang memang ingin kamu lakukan.
Kamu tahu…. Aku mencintaimu bukan karena kamu pintar, kamu berbakat, kamu keren, kamu lucu, kamu menawan, atau yang lain-lain.
Aku mencintai kamu karena aku ingin.
#maboksyaratDBL #akteraporSTTBKTP #blablablabla…. #TIKbelommudeng #danlainlain #wzwzwzwz….