Sembari
aku berharap gelas ini pecah
panas
menyengat setiap jengkal telapak tangan, bertanya
apakah
kulitku terbakar dan berasap sampai ke tulang tiada kubedakan lagi
Sakit ini melindungi,
sakit
ragawi sebenar-benarnya, yang hakiki
Telah penuh tubuhku dengan corak warna, satu
dua tiga depa
merah yang kutempuh senantiasa
Detik
fana menerka-nerka adakah
kelak
nanti semua hanya menjelma noktah
yang
tak tercatat pada getir gelisah di petang langit ruang ingatanku
Atau anafora yang tak sedikit
saja kukenali padahal Engkau telah
melukisnya
pelan saat menghentikan laju semesta lagi-lagi dalam kepalaku
Rasa
sakit adalah asing yang familiar jauh di sana
sejauh
jarak jemariku dan terang berpendar
seperti
kata-kata yang berlari dari puisi
seperti
bayang hujan yang terdistorsi
oleh pekat tak kunjung masap
Memori bersayap mengepak-ngepak
memimpikan terbang meninggalkan runyam pikiran
teriring
tembang sayup dalam repertoar pagelaran sanubari pahit
dari
gelas kopi kedua yang kusesap sedikit demi sedikit.