Pada titik ini, kebodohan saya adalah saat hati saya memutuskan untuk jatuh cinta. Dan, ya, menurut saya ini adalah merupakan suatu kebodohan. Catat, kebodohan. Bukan kesalahan. Karena, yah, apa yang salah dari seseorang yang jatuh cinta pada orang lain?
Namun ternyata kebodohan saya ini diikuti dengan kebodohan-kebodohan lain yang jauh lebih konyol.
Saya menunggu.
Dan itu kebodohan turunan dari kebodohan saya yang pertama. Apalagi ketika yang saya tunggu bahkan telah jauh berlari meninggalkan saya. Yang artinya,
untuk apa saya terus menunggu? Seharusnya saya berlari menyusulnya, dan memanggil namanya. Bukannya malah terus berdiri di sini, terlihat seperti orang tersesat. Masih saja percaya bahwa orang yang saya tunggu akan berhenti berlari dan berbalik menghampiri saya.
Yang sudah lalu adalah pelajaran, yang belum terjadi adalah pengharapan.
Saya bergeming.
Bergeming, sering disalah artikan sebagai 'bergerak'. Hal ini sudah menjadi kesalahan yang amat sangat umum. Padahal bergeming sendiri berarti 'tidak bergerak'. Seperti saya sekarang ini. Saya memilih untuk tidak bersama siapa-siapa, karena saya jujur terhadap apa yang saya rasa. Saya nggak memaksa untuk mencari yang lain selain dia. Saya nggak punya niat untuk melupakan atau mencari pengganti dirinya. Karena pada kenyataannya, saya cukup bahagia dengan kenangan-kenangan tentang dia, atau kesempatan-kesempatan yang akan datang untuk menghabiskan waktu-waktu bersamanya.
Saya nggak peduli.
Dan kesalahan ini cukup fatal. Karena saya bahkan nggak peduli cinta ini berasal dari satu arah saja. Dimana seharusnya berasal dari dua arah yang berbeda. Karena saya berpikir, jika rasa dengan yang lain belum kuat, lebih baik tidak usah saja. Toh saya malah akan lebih baik jika berbahagia sendiri daripada tersiksa berdua.
Saya ingin melihat dia bahagia.
Saya akui, saya bodoh saat saya punya keinginan untuk berada di sisinya hanya agar saya bisa melihatnya bahagia. Menonton, berbelanja, atau makan bersama sambil bercerita panjang lebar.
Saya nggak menyesal.
Jujur saja, saya nggak menyesal samasekali dengan semua kebodohan saya. Mungkin dia nggak tahu bahwa saya sudah mengagumi dia sejak dulu. Lama sebelum dia bahkan sadar bahwa saya ada.
And, well, saya tidak mengutuk diri saya saat
I accidentally fall in love. Karena saya tidak menyengajakan diri saya untuk jatuh.
I just fell. Just as simple as that.Saya tetap mencintai kamu. Dengan penuh kesadaran bahwa kamu nggak akan pernah ngerti perasaan ini. Dan saya juga nggak akan pernah memaksakan sesuatu. Karena toh cinta itu membebaskan.
Ternyata sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mencintai kamu seperti apa adanya. Cara ini mungkin memang nggak biasa. Tapi biarkan sajalah. Saya akan tetap menunggu hingga rasa yang ada tergantikan. Dengan sendirinya. Dan jika rasa itu tetap ada, nggak apa-apa. Seenggaknya saya udah mencintai kamu seperti seharusnya.
'Cause everything's so wrong, and I don't belong living in your precious memories. –Vanessa Carlton
*Udah, sante aja, nggak usah risau nggak usah galau. Just for fun kok :D*