Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Januari 2021

What's up?

"Why can't I remember my old self in the past?
The past. When was that? The past.
When we met what kind of person was I?
I don't remember how I used to be. When I made a decision about something, I don't remember what's been on my mind. Why can't I remember it? It's scary."

Beberapa hari lalu baru menyelesaikan drama berjudul Be Melodramatic rekomendasi seorang teman. Dan salah satu tokohnya mengutarakan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dirinya sendiri in a retrospective manner. And I wonder..... (when I sing along with youuuuu~) Ngaaa deng wqwq. And I wonder,

25 years and my life is still
Tryin' to get up that great big hill of hope
For a destination

What kind of person was I? Why can't I remember it? Why can't I?

Unsplash

Ini bukan usaha pertama saya berusaha menulis kembali di blog ini setelah sekian lama, sebelumnya sudah beberapa kali saya memulai, namun selalu hanya berakhir dalam folder draf. Kemudian ketika saya membuka blog ini lagi dan melihat draf-draf tersebut, ada perasaan asing yang menyeruak ke permukaan. Saya... tidak terlalu ingat mengapa saya menulis draf tersebut. Tidak ingat bagaimana perasaan saya saat menuliskannya. Tidak ingat ada kejadian apa. Tidak ingat apa yang saya pikirkan saat mulai mengetiknya. Saya tidak ingat diri saya.

I don't know whether I'll be able to finish this one too, but let's just try for now. I think that's enough. As for those drafts, I won't let them go in vain so I'll post them right below here. So that when I actually manage to finish writing this very post, fingers crossed, I'll be able to look back and at least try to reminisce. Here goes nothing.

Minggu, 27 Januari 2019

to whom it may concern: pt. 7


I don't know you, but I want you. All the more for that.

Who would've thought those particular lines of lyrics from one of my favorite songs could perfectly describe what I'm feeling right now? Certainly not me. But it doesn't change the fact that they do. Oh they fit my feelings just fine.

So I guess this is the part where I would go on and tell the story of how we met, huh? But the funny thing is, we haven't met each other. At all. Well... I suppose, that's not exactly true. Technically it is, but figuratively it's not. Does that make sense? To you, of course it does. You don't need me retelling the story of how you and I met, do you? Let that be our story to remember. Umm no, scratch that, I mean, mine. Let that be my story to remember. Geez, Louise. Who am I, having the audacity to even use the wrong pronoun?

But... Well... Okay, I think I'll write a bit about that. It's the very point of writing this letter after all.

Jumat, 14 September 2018

Well.

Hello. So it's been more than a year. And in the words of Adhitia Sofyan, "Still every day I think about you. I know for a fact, it's not your problem." Yes, I know. Of course, I know that. But I just can't help it. Jeez. My first post in 2018 and I'm talking about what? My non-existent love story.

Ugh.

We don't even know each other yet I miss you every day.

I know I'm unloveable
You don't have to tell me
I don't have much in my life
But take it, it's yours
I know I'm unloveable
You don't have to tell me
Oh, message received
Loud and clear

Loud and clear. 
--The Smiths.

Rabu, 12 Februari 2014

Let Her Go - Passenger [#FF2in1]

Aku masih di dalam mobilku saat senja mulai memeluk langit yang berawan, memandang pada sesuatu yang membuatku mengerem mendadak dan hampir saja mencelakakan pengendara motor di belakangku. Setelah sedikit dimaki oleh sang pengendara, aku menepikan mobilku di sisi jalan di mana ia tak akan dapat mengenaliku. Iya, memang sejak dulu hanya ia lah yang mampu memorak-porandakan duniaku, in a good way. Namun, sekarang sebaliknya. Kejadian yang baru saja kualami sepertinya sudah cukup menjadi bukti.

Ia tersenyum, membuat seberkas perasaan hangat menjalari tubuhku. Hangat yang anehnya malah membuatku menggigil. Mungkin karena pada detik-detik aku menatapnya, walaupun dari kejauhan seperti ini, akan selalu ada perasaan sesal yang mencabik jiwa. Yang menoreh luka. Rasa sakit yang terasa begitu familiar itu membuatku meringis.

Kemudian ia tertawa. Matanya bersinar, membuat wajahnya begitu berseri-seri. Tentu saja aku tak kuasa menghindari setikam rindu yang menyerang ulu hati. Dahulu, tawa itu hanya untukku. Dahulu, ia tertawa hanya bersamaku...

Senin, 20 Januari 2014

iya, bisa bikin gila.

"Jatuh cinta itu bisa bikin gila, ya?" adalah pertanyaan yang dijawab oleh judul postingan ini. Wueeeedyan bahasan e cinta mbeeeel. Bahahahasem berasa rodo nista kiyi. Dadi ceritane aku bar mbukak i buku catetan jaman esema dan nemu beberapa (akeh deng) catatan kaki sing absurd dan hina banget. Terus aku sadar, jan jaman esema ki aku pekok banget yo -__-

Tur kita tidak sedang akan membahas kegoblokan masa itu. Eh sithik sik. Hehehehe. Hmm, aku nemu suatu tulisan sing tak gawe jaman aku ijeh mabok cinta (((PREKJUH))) sekitar 2 tahun lalu. Njut aku memutuskan untuk posting wae neng kene (dengan tak edit sithik) mengantisipasi nek sesuk bukune ilang, dan untuk tanda mata jaman kegelapan sing nek dieling-eling yo jebule ndagel huahuahahahaha...
Senin, 9 Januari 2012.

Sebuah Esai

Aku bukan seseorang yang dianugerahi kemampuan untuk mengingat memori-memori manis maupun pahit dalam jangka waktu lama dan detail yang rinci. Membuatku mengumpat pelan tiap kali aku kesulitan mengingat kenangan dengan kamu di dalamnya. Aku tak pernah lagi bisa mengingat detailnya. Sial. Hanya beberapa momen kecil saja yang masih terekam. :)

Aku ingat kata-kata pertama yang kamu tujukan kepadaku. Suatu pagi di bulan Desember. Setahun yang lalu. Aku ingat. Waktu itu masa-masa remidi, dan aku bukan murid yang cukup pintar untuk dapat melewati saat-saat seperti itu dengan tenang. Siang itu, aku, kamu, dan seorang kawan.

"Kamu remidi apa saja?" kawan itu bertanya padaku. Aku hanya tertawa malu dan berkata,

"Ah, banyak."

Dan kamu mengejutkanku...

"Hahaha! Bodoh!" kamu berseru sambil menertawaiku. Kita belum mengenal satu sama lain, tapi bahkan aku sudah terlalu berdebar saat itu. Aku hanya dapat memandangmu sangsi.

Dalam hati, aku menjerit histeris. Kamu bicara padaku!!! Andai kamu tahu, jauh sebelum hari itu, aku menghafal jadwal kelasmu, was-was tiap kali moving class, dan meledak bahagia saat melihat sosokmu. Walau hanya sekilas, walau kamu tidak mengenalku. Sudah cukup.

Setelah itu, my life was a fairytale. In a good way. Aku tidak pernah bermimpi semua akan menjadi seperti ini. Kamu, menjadi alasanku bangun setiap pagi. Lalu tiba-tiba aku malas melanjutkan esai ini. Aku nggak pernah nyesel. Cinta nggak salah. Keadaan yang salah. Kamu, kamu, kamu.
Kalo mau muntah, muntah aja. Aku udah duluan. HOEEEEEEKZ...

Oh, and by the way, here's a pic of me and the person I wrote the essay about. He's one of my bestfriends now, and that idiotic feeling has loooooong gone. It was just a silly phase on my highschool era. Cheers!


Senin, 13 Januari 2014

picture challenge

Liat ada yang posting gambar ini di Facebook. So I (wo)man up and take it as a challenge.



Aku kembali menyusuri trotoar di sepanjang jalan yang kuhafal rutenya ini luar kepala, setelah sekian lama. Sudah mulai senja, dan angin berdesau, bertiup melawan arah. Kurapatkan jaketku dan kumasukkan tanganku ke dalam saku depannya. Gigiku bergemeletuk kedinginan. Sedari dulu aku memang alergi dingin, membuatku bersin-bersin. Kamu masih mengingat hal ini, mungkin?

Trotoar ini, jalan ini, senja seperti ini. Yang tidak sama hanya ramainya manusia serta kendaraan yang lalu-lalang dan ingatan kita yang mulai menghilang.

"Oh, maaf!" seru seseorang setelah aku mengaduh saat kami bertabrakan. Aku memandang orang itu. Laki-laki muda yang terlihat sedikit borjuis dengan seorang wanita manis dalam rengkuhannya. Aku hanya mengiyakan, tersenyum, dan kembali berjalan.

Senyumku masih bertahan ketika aku sudah berjalan agak jauh. Dahulu kita juga seperti itu. Tangan bertautan tanpa ada sedikitpun keraguan, melangkah pelan menikmati detik-detik sementara milik kita berdua, yang terasa seperti selamanya.

Taman ini, tanggal dan bulan ini, senja yang juga seperti ini. Yang tidak sama hanya tatanan taman yang telah berubah dan kaki yang tak lagi lincah.

Sejenak aku berhenti untuk memandangi keseluruhan taman ini. Sampai kemudian mataku tertumbuk pada satu titik. Bangku itu, masih di sana. Tempat kita kerap menghabiskan waktu dengan duduk saja berdua sampai senja hilang dan malam tiba. Napasku tertahan sejenak, bersamaan dengan aliran ingatan yang memaksa untuk melesak masuk ke dalam kepala. Lalu perlahan aku mendekati bangku itu dan entah mengapa, jantungku sedikit berdebar. Hampir tiga dekade berlalu, namun sedikit saja ingatan tentangmu masih terasa menyesakkan dada.

Kemudian aku duduk di sana. Tentu saja dengan sedikit perasaan nelangsa yang tak terhindarkan. Tidak, ini bukan nelangsa. Melainkan rindu. Dan aku memutuskan untuk duduk saja di sana menghabiskan senja. Menikmati segala yang ada, walau sudah tak bersamamu lagi mengeja rasa.

Setelah beberapa lama aku duduk di bangku itu dan langit mulai gelap, seseorang datang dan duduk di sampingku. Aku merasa tak perlu repot-repot menoleh. Aku sedang sibuk memeluk kenangan. Tak ada yang boleh menyelaku saat sedang demikian.

"Senja tenggelam, menggerutu dengan senyum masam... Tenggelam untuk tergantikan malam..." senandung orang di sebelahku. Jantungku serasa berhenti berdetak, namun aku mampu bertahan untuk tetap tidak menoleh.

"Mengapa?" kataku pelan.

"Mengapa, bagaimana?" ujarmu sama-sama pelan.

"Semesta memeluk kita," kita berkata bersamaan. 

Aku tidak mempercayai ini. Memang kamu yang ada di sampingku saat ini juga. Kamu bahkan masih mengingat ritual kita yang sangat konyol tadi. Ritual kita setiap senja mulai tenggelam. Aku mengatur napas dan memberanikan diri untuk memandangmu. Kita bertatapan selama beberapa detik. Detik-detik yang membeku. Detik-detik yang menoreh pilu.

Kupalingkan wajahku darimu dan kamu malah tertawa. 

"Kamu datang," dapat kurasakan kamu tersenyum lebar saat mengatakannya.

"Ya, memang kenapa? Tidak boleh?" tantangku.

"Bukan begitu maksudku... Aku hanya sedikit terkejut."

Aku diam saja. Hening selama beberapa saat.

"Kenapa baru sekarang? Setelah sekian lama?" kamu bertanya. 

Aku tertegun.

"Taman ini sudah banyak berubah," kataku lirih.

"Benar," jawabmu singkat. Kemudian tak ada satupun dari kita yang membuka mulut lagi.

Lalu hanya seperti itulah, percakapan kita berakhir. Tanpa ada penjelasan panjang. Tanpa ada keinginan untuk menyusun kembali fragmen-fragmen kehidupan tanpa satu sama lain yang sudah berlalu ditelan waktu. Tanpa ada lagi detik-detik yang membeku. Semua berjalan sebagaimana adanya.

Bangku ini, petang ini, kesunyian ini. Yang tersisa hanya remah-remah rasa dan kerinduan yang selamanya tak akan terkatakan.

Sabtu, 11 Januari 2014

don't fade away

image source: weheartit.com

I miss you, but of course it is certainly her that you missed. It's a cliché much of my dismay. Thinking about all of this is definitely not okay. And I can't stay, if I know that you will eventually fade away. Please just promise me we'll meet again in Causeway Bay, someday. But before you're gone on your way and cause me disarray, hear what I'm gonna say.
Every night and day, there is always your name in my prayers. 

just leave me be

image source: weheartit.com

Setiap pagi kukirim salam padamu, lewat embun di dedaunan.
Setiap senja kukirim sayang padamu, melalui matahari jingga di ufuk barat.
Dan setiap petang, aku berdoa untuk bahagiamu. Semoga bintang-bintang turut mengamini.

Namun sekarang aku hanya ingin terlelap. Untuk sejenak melepas harap...

Rabu, 08 Januari 2014

I'm ruined. [#FF2in1] [Flash-fiction]

Di atas meja di dalam kamarku berserakan puntung rokok dan berkaleng-kaleng bir. Ini hari apa? Entah, aku tak dapat mengingatnya. Entah pula sudah berapa hari aku mengurung diri dalam kamar ini. Hanya keluar untuk membeli rokok dan bir. Sungguh aneh betapa aku masih bisa mempertahankan kesadaranku dalam keadaan seperti ini. Mungkin memang sebegitu dahsyat efek patah hati. Seharusnya aku sudah tahu sejak dulu, bahwa memang kamu hanya menjanjikan semu. Tetapi rupanya aku cukup bodoh untuk jatuh terperangkap senyum yang ternyata palsu.

Aku kembali menyulut sepuntung rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Lalu kuraih pula sekaleng bir, kubuka, dan kusesap penuh khidmat. Kugantungkan nasib pada takdir, menelan pahit getir.

I'm sorry... [#FF2in1] [Flash-fiction]



"Halo, sayang? Makan yuk, aku jemput ya."

"Nggak deh, aku males keluar nih."

"Ya udah, aku beliin terus kita makan di rumah kamu aja ya?"

"Mmmm, nggak usah lah. Aku tadi udah makan, masih kenyang. Ini mau tidur."

"..."

"Halo, gimana? Maaf ya."

"Iya, nggak papa. Aku makan sama temenku aja deh. Bye, yang."

"Bye."

Klik. 

Aku menghela nafas. Mendadak dadaku serasa dihimpit dua bongkah batu. Sesak. Sakit. Saking sakitnya aku mengira kalau ada pendarahan di dalam sana. Tetapi tentu saja itu pikiran yang konyol. Namun, apabila luka di hati memang bisa benar-benar mengeluarkan darah, pasti sekarang aku sudah mati. Mungkin malah dari jauh-jauh hari.

Beberapa hari ini memang kurasakan ada yang tidak beres dengannya. Ia menjauh, menjadi tak dapat kusentuh. Mungkinkah ia jenuh? Ah, betapa aku merindukan senyumnya yang teduh....

***

Di mana? Ketemuan yuk :)

Aku lg sm temen-temen nih, ga bisa

Oh, sama siapa aja emangnya? Lg di mana?

Ada Via, Hugo, sama Ryan. Di rumahku

Ya udah kl gitu, have fun yaaa. Love you

Iya

Hatiku agak bergetar melihat salah satu nama tercantum dalam SMS-nya. Ryan. Tetapi aku mencoba untuk berfikir jernih dan berprasangka baik. Itu kan dulu, mereka sekarang hanya berteman. Aku terus meyakinkan diriku sendiri.

Namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, dalam kepalaku berkejaran ingatan akan sejarahnya dengan Ryan.

***
 "Aku minta maaf banget... Tapi ternyata emang aku sama dia belum selesai. Aku nggak bisa nipu hati sendiri, Ben. Maafin aku..."

"..."

"Ben? Beno? I'm so sorry. I really am. Ben, ngomong, Ben. Jangan diem aja, please. Aku juga sakit. Maaf..."

"..."

"Ben......"

Klik. 

Kemudian aku tenggelam dalam jelaga pekat, dan tak berharap dapat selamat. Dalam, kelam.

Senin, 23 Desember 2013

Last Night - Motion City Soundtrack

source: weheartit.com

         
Sinar matahari menyelinap melalui jendela tanpa tirai. Mataku mengerjap perlahan. Sialan. Kepalaku terasa berat sekali. Pening tak terkira. Kutegakkan tubuhku walau sungguh rasanya susah sekali. Kembali mataku mengerjap. Rumahku hampir kosong. Belasan botol dan kaleng bir berserakan di hadapanku. Kemudian kesadaran menghantam keras ingatanku.

“Oh, fuck.”
****
“Nggak usah ngatur-ngatur kalo kamu sendiri nggak mau diatur! I’m not one of your stupid superheroes action figures yang bisa kamu mainin seenaknya!” suaranya seakan melecetkan telingaku.

“Kamu itu CALON ISTRIKU, anggep aja ini latihan! Istri yang baik nggak akan pernah melawan perintah suaminya,” kataku sambil menahan api yang mulai bergejolak dalam dada. Ia menatapku dengan sengit.

“Aku capek sama semua ini! Kamu bilang kamu mau coba pelan-pelan berubah, tapi apa? Harusnya dari awal aku tahu kamu cuman akan terus kayak gini!”

Aku bisa merasakan telingaku benar-benar telah siap mengucurkan darah segar sebentar lagi. Kepalaku serasa dibor. Hatiku bocor. Bukit kesabaranku mulai longsor. Kuambil kunci mobilku tanpa berkata apa-apa. Tanpa menatap raut wajahnya.

“Mau ke mana kamu? Heh! MAU KE--- BAYU!” 

Aku bahkan tak menoleh lagi.

Aku mengemudikan mobilku dengan hati yang gusar dan pikiran yang ambyar. Berkawankan letupan-letupan api dalam dada yang ternyata masih menjalar. Aku sendiri tak tahu ke mana arah tujuan, biar saja kemudi ini yang menuntun di manapun nanti kutemukan haluan.

“Satu tiket flight ke mana aja yang siap take off secepatnya,” kataku tanpa mendengarkan apapun itu yang sedang dikatakan oleh mbak-mbak di depanku. Satu jam kemudian aku sudah berada dalam pesawat yang entah menuju ke mana aku tak terlalu ingat. Penerbangan last-minute ini menguras kocek, tentu saja. Tetapi aku sudah benar-benar tak peduli. Langit di luar mulai gelap, mengantarkan diriku menuju lelap. Lelah…

 ****

Perlahan kubuka pintu pagar rumah ini. Rumah yang seharusnya menjadi surga kami nanti. Yang mungkin sudah tinggal ilusi. Tiga hari berlalu sejak prahara itu. Tiga hari aku memilih untuk pergi mengasingkan diri barang sebentar demi kebaikan kami. Setidaknya, itu yang kupikir.

Tidak ada yang berubah. Semua masih pada tempatnya semula. Yang berbeda adalah, hanya sepi yang menguar. Sunyi yang menyelimuti. Kujelajahi satu persatu ruangan rumah ini, dengan setitik harapan kutemukan sosoknya di salah satu sudut ruangan. Namun, tunggu sebentar. Ada yang tidak beres…

Seperti kilat yang menyambar, secepat itulah rasa sesak mencengkeram dadaku. Aku baru menyadari, tidak ada lagi satupun barang-barang miliknya di dalam rumah ini. Dengan perasaan panik yang mencekik, seisi rumah kuobrak-abrik. Dari bawah karpet, sampai langit-langit, nihil. Tak dapat kutemukan secercah ia di manapun. Tiada. Aku mulai merasa putus asa.

“Bayu…”

Aku terkesiap. Kemudian aku berlari menuju arah datangnya suara yang sudah sangat kukenal itu.

“Mona!” teriakku hampir tak percaya. Ia berdiri di depan pintu, dengan raut wajah yang tak dapat kujelaskan artinya. Tetapi, ia ada.

“Mon… Maafin aku, Mon…” hanya itu yang dapat kukatakan. Aku sudah terlalu lemas hingga tak dapat berpikir lagi. Namun, Mona hanya bergeming. Matanya redup dan sayu. Dia tak terlihat seperti biasanya, tak seperti yang kuingat.

Aku mendekatinya. Ingin sekali kurengkuh ia ke dalam satu pelukan panjang. Hangat. Tetapi saat aku hampir meraihnya, ia menghindar. Aku tertegun.

“Ini nggak mungkin berhasil, Bay…” katanya lirih. Aku diam saja. Mencari-cari dalam matanya sosok yang dulu kudekap erat dalam hati.

“Aku nggak bisa. KITA nggak bisa, Bay. Trust me…” ia berkata seolah dengan seluruh tenaga yang ia punya, hingga sekarang nafasnya tersengal. Hening di antara kami mulai ramai oleh rintik hujan yang turun di luar sana. Dan dalam kepalaku masih berkejaran segala harapan yang tinggal kemungkin-mungkinan. Aku tetap menatap matanya. Ia balas menatapku, kemudian kurasakan dalam hatiku tertancap sepisau perih.

Lalu ia mendekatiku pelan. Ia bisikkan ke telingaku kata-kata yang bahkan aku tak sanggup menanggung rasa sakit saat mencoba mencernanya. Setelah itu ia berbalik dan keluar dari rumah ini, mungkin untuk selamanya. Entah, aku tak mampu membayangkannya. Terlalu nyata, terlalu menoreh luka.

Dengan sisa tenaga yang masih kupunya, kuuikuti ia dari belakang. Hujan makin deras. Tubuhnya sudah kuyup oleh guyuran airmata langit. Aku tahu ia mencoba sekuat tenaga untuk tak menangis. Dapat kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Mungkin karena seluruh emosi yang mengoyak hatinya, atau karena dinginnya air hujan petang ini. Semuanya telah menjadi entah buatku.

Tiba-tiba ia berbalik, menghadapiku yang sama-sama basah. Yang sama-sama pasrah. Matanya menatap ke dalam mataku. Lama. Tak ia pedulikan hujan yang makin hebat menderas. 

“I can’t compete with all your damn ideas. This isn’t working out for you and me…”

Diam, sayang. Diam. Jangan kau teruskan.

“The truth is I’m too tired to play pretend. This is goodbye, this is the end.”
****
 Aku masih di sini setelah terkapar semalaman berusaha mengenyahkan bayangan kita. Berusaha menenggelamkan kenangan dalam berbotol-botol bir yang kutenggak. Mengharap semua ingatan menguap bersama kepulan asap rokok yang kuisap. Aku masih di sini, mengunyah pahit ironi semalam tadi.


23/12/2013

Rabu, 16 Oktober 2013

Hai! [Flash-fiction] [#FF2in1]


source: Tumblr

Hai. Kamu lagi. Kamu sendirian lagi. Sudah entah yang ke berapa kalinya kutemukan kamu seorang diri di pasar ikan ini, mengamati satu persatu akuarium dari tiap toko dengan mata bulat besar yang bersinar akan semangat. Hari ini kamu memakai kaos abu-abu bertuliskan nama band kesukaanmu (mungkin), dan celana jeans hitam. Dan seperti hari-hari sebelumnya, tentu saja kamu masih tetap manis dan mempesona.

Rambutmu yang sebahu itu tertiup angin, membuatmu sekilas cemberut karena rambutmu jadi berantakan. Setelah merapikan rambutmu sekenanya, kamu mulai menyusuri lagi berbagai toko ikan di pasar ini. Kali ini aku tak tahan lagi untuk tidak mengikutimu. Aku tahu ini terdengar mengerikan --menguntit seseorang, namun aku benar-benar penasaran denganmu!

Kamu berhenti di salah satu toko kemudian mengamati satu persatu akuarium lagi. Kuputuskan untuk lebih mendekat.

"Hihi," kamu tertawa kecil saat melihat seekor ikan mendekat ke wajahmu yang hampir menempel di kaca akuarium. Ah, bodo amat! Aku harus bisa kenalan denganmu!

"H-hai," kataku gugup. Kamu menoleh, lalu alis matamu berkerut melihatku.

"Ya?" tanyamu bingung dengan wajah lucu.

"Boleh kenalan? Nggg..." kataku sambil mengulurkan tangan dengan sedikit ragu.

"Boleh, boleh. Nama kamu siapa?" tanyamu sambil menerima uluran tanganku.

"Aku Banyu."

"Hah?? Banyu? Namaku Tirta! Hahahaha!" katamu sambil terbahak.

"Ya ampun, kebetulan banget ya arti nama kita sama," kataku sambil tertawa juga.

"Iya! Eh, kita juga kenalannya di pasar ikan! Kebetulan yang aneh banget," kamu masih tertawa.

***

Hari-hari berikutnya aku tak lagi melihatmu berjalan sendirian di pasar ikan ini, karena mulai hari itu aku selalu berjalan di sampingmu. Tertawa bersamamu, sambil memandangi ikan-ikan lucu di pasar itu.

Minggu, 05 Mei 2013

Tentu saja banyak hal.

Pada malam-malam seperti inilah puncak segala kekacauan atas kilasan memori yang berkelebatan dalam kepala. Tentu saja kilasan itu mengandung banyak hal. Banyak sekali. Sekali lagi, tentu saja banyak hal.

Hal-hal seperti... Kapan terakhir kali kita tertawa bersama, tempat terkahir yang kita kunjungi, berbagai hal aneh kesukaanku yang dengan lapang dada kamu terima, betapa noraknya kamu dalam berbagai hal yang akhirnya aku toleransi juga, dan yang lain-lain. Tetapi, aku tahu selamanya aku hanya akan mengenang mereka dalam kepala, kenangan yang aku dekap dekat dengan hati. Karena bagaimana pun juga, kamu pernah sebegitu berartinya buatku.

Dan itu yang salah.
I wonder, how am I supposed to feel when you're not here.
Cause I burned every bridge I ever built when you were here.
I still try, holding onto silly things, I never learn. (PARAMORE)
Saat begitu saja kamu berlalu, aku kehilangan sandaranku. Aku limbung untuk kemudian jatuh. Jatuh keras sekali menghantam tanah tempatku berdiri. Mungkin lututku lecet dan berdarah, mungkin tanganku tergores, mungkin juga kepalaku terantuk batu kemudian gegar otak. Entah, semuanya samar.

Dengan berakhirnya analogi tadi, dapat aku katakan bahwa aku belajar untuk terus bangkit dan berjalan kembali seberapapun parahnya lukaku setelah jatuh tersungkur.

Aku belajar untuk melepaskan.

Sudah, selesai. Aku tahu kita akan tetap terus bertemu, walau entah sampai kapan hal itu berlangsung. Tetapi hal yang terpenting adalah, aku sudah tak peduli lagi. Dan kamu selalu tahu bahwa ketika aku sudah benar-benar tidak peduli pada sesuatu hal apapun itu, maka tak ada yang dapat merubah itu kecuali jika aku mendapat hidayah saking Gusti. 



I decided to stop caring. And I'm not sorry there's nothing to save.

Jumat, 15 Maret 2013

Elevator Love Letter [Cerpen]


Coffeemaker tua kepunyaan divisiku berdesing pelan. Dan aku menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jemariku sedikit tak sabar. Sebenarnya ada coffeemaker lain yang lebih baru dan canggih di kantorku, namun aku masih saja memakai yang ini. Mungkin karena sudah terlanjur nyaman dan terbiasa. Entahlah.

Ah! Akhirnya.

Kemudian aku menuju ruanganku dengan segelas besar kopi yang masih mengepul panas. Aromanya pas menguar. Tidak terlalu lembut, tidak terlalu kuat juga. Persis seperti yang kuinginkan. Oh, juga tidak lupa setoples kue nastar kesukaanku yang kuambil dari lemari pantry.

Sesampainya di meja kerjaku, kuletakkan cangkir tadi di samping setumpuk rancangan jenius yang tentu saja kubuat untuk memikat hati para klienku.

“Well, back to work...” gumamku pada diri sendiri.

Rekan kerjaku sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Jam dinding pun telah menunjukkan pukul 11.30 malam. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini aku sudah berada di sofa empuk ruang tengahku untuk sekedar menonton sitcom dari saluran tv kabel ataupun mencoba resep masakan baru.

Tetapi, sudah hampir setengah tahun ini aku bekerja seperti orang gila. Menggarap dan menyelesaikan setumpuk rancangan pesanan klien, mengarsip data-data penting, mengurusi berbagai hal administrasi, dan yang lain-lain. Bahkan pada hari liburpun aku masih saja berkutat dengan segala tetek-bengek dari kantor. Sebetulnya aku tidak wajib melakukan semua itu... But I chose to.

Mengapa kamu membebani dirimu sendiri dengan hal-hal macam ini, Son? Pertanyaan itu kerap kali muncul dalam kepalaku, yang akan segera kutepis jauh-jauh dengan pikiran ‘Karena aku ingin.’ Tidak, aku tidak sedang membohongi diri sendiri. Ini lebih ke... Meyakinkan diri. Membohongi dan meyakinkan tentu saja adalah dua hal yang berbeda, kan?

Pada kenyataannya, aku sebenarnya sedang mengambang. Entah apakah itu merupakan kata yang tepat untuk mengungkapkan keadaanku saat ini. Tetapi memang itulah yang terjadi. I’m stuck in this pathetic state.

Aku tak tahu apalagi yang aku inginkan. Menakutkan memang. Tapi benar. Bukan bermaksud menyombong, namun aku adalah seorang wanita yang dapat dibilang amat sangat mandiri dan berdedikasi. Lihat saja, hanya dalam kurun waktu 7 tahun aku dapat meraih jabatan idamanku di kantor ini.

Sonya Notonegoro, 29 tahun, seorang Creative Director yang sangat menjanjikan dan mempunyai masa depan yang cerah. Itu menurut rekan-rekan kerjaku, lho. Gajiku lumayan besar dan aku pun telah memiliki rumah sendiri. Tidak terlalu mewah dan luas, namun sudah sangat cukup untuk seorang aku. Memang, aku belum mempunyai pasangan hidup. Tapi itu bukan masalah buatku, karena toh aku juga sama sekali belum tertarik untuk memiliki hal yang satu itu.

Kalau ditanya apakah aku bahagia... Iya, aku bahagia, kok. Hampir segalanya tercukupi bahkan mungkin lebih. Aku juga tak pernah lupa bersyukur pada-Nya yang telah melancarkan hampir segala aspek dalam kehidupanku.

It’s just... Pada titik ini, I don’t know what to do or to reach anymore. Karena itu kuputuskan untuk melakukan yang terbaik dalam karirku. And so, here I am now... Bermetamorfosis menjadi seorang workaholic. Dengan mata yang kerap kali menghitam karena lembur semalaman, dan wajah yang terkadang sayu karena terlalu kelelahan. Tetapi sekali lagi, sama sekali bukan masalah bagiku tenggelam dalam dunia kerja seperti ini. It’s much better than just floating around in some awful phase of life.

Sekarang hanya tinggal aku suara pelan AC yang berhembus, dan suara derak keyboard komputerku. Sedih juga sebenarnya, berpikir bahwa aku sudah terlalu terbiasa dengan semua ini. Another form of loneliness, maybe. But hell, I don’t care.

Kulirik jam yang tergantung di dinding. Astaga, sudah hampir pukul satu dini hari. Aku bisa saja bekerja sampai pukul tiga pagi kalau aku mau, tapi aku kasihan pada sopirku jika harus menungguku selama itu. Toh aku juga harus selalu menjaga kondisi tubuhku.

Kurapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja lalu kusesap kopiku sampai tak bersisa. Setelah beres semua, aku beranjak menuju jendela ruanganku untuk menutup tirainya. Sebelum aku menarik tirai, aku berhenti untuk memandangi denyar malam ibukota. Kebetulan kantorku terletak di lantai atas bangunan ini, sehingga aku dapat mengamati lalu-lalang dan kerlap-kerlip lampu kendaraan di malam hari dari sini kapanpun aku mau.

Lampu-lampu yang tak henti bersinar dan berkerlap-kerlip dari bawah sana selalu berhasil mempesonaku. Aku tak pernah bosan memandangi semua itu. Tak pernah sekalipun. Ini hal yang menyenangkan, sekaligus menenangkan. Ah, sayang sekali bintang-bintang tak ada satupun yang nampak.

Setelah cukup puas memandang ke luar, segera kututup tirai jendela ruanganku itu. Kemudian sekali lagi aku mengecek isi ruanganku, lalu ke pantry untuk menyeduh segelas kopi yang kutempatkan dalam cangkir plastik sebelum akhirnya melangkah dengan tenang ke arah lift.

Lift pun berdenting dan membuka. Seperti biasa, tak ada seorang pun di dalamnya. Langsung saja aku masuk dan menekan tombol. Pintu lift menutup dan lift mulai bergerak turun. Kusesap sedikit cangkir kopiku yang entah keberapa untuk hari ini. Wajar saja, untuk seseorang dengan jam terbang sepertiku kopi merupakan sebuah kebutuhan.

Sembari pelan-pelan menikmati kopi di tanganku, aku menengadah menatap langit-langit lift yang kugunakan ini. Aku tidak paham bagaimana, namun saat sedang melamun dalam lift, kilasan hal-hal yang kulakukan hari ini melintas dalam kepalaku. Ini aneh, namun berguna juga.

“Another hectic day, huh? As always. Not that I’m complaining... Ah, but you know it better than me, don’t you? I don’t have to tell it again to you, you’ve already knew about it,” kataku masih sambil menatap langit-langit. Entah kutujukan untuk siapa, lift ini ataukah padaku sendiri.

Lift berdenting lagi, dan pintunya membuka. Aku melangkah keluar. Sepatu hak tinggiku menimbulkan bunyi ‘tok tok tok’ yang menggema di lobby bangunan ini. Suasana sekitar sudah sepi sekali. Mungkin hanya tinggal segelintir orang saja yang masih berada di sini.

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba lift berbunyi lagi di belakangku.

“...halo?? Haloooo?! Ah, SHIT!” terdengar suara gusar seseorang. Aku menoleh dan kulihat seorang lelaki dengan ponsel menempel di telinganya. Ia memakai kemeja warna biru muda dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Di tangannya tertenteng jas dan sebuah tas kerja warna abu-abu tua. Lelaki itu terus menggerutu.

Baru aku sadar aku telah terlalu lama menatapnya saat ia akhirnya menyadari keberadaanku. Matanya menatap lurus pada mataku. Sepasang mata gelap itu menyiratkan tatapan yang...

***




Greaaaaaaaaat. Lembur lagi, lembur lagi. Lo lembur aja sampai mampus, Ga. Kalau bukan si Jenggot sendiri yang nyuruh ngerjain ini, mungkin gue malam ini udah ngorok di kamar. Sabar, Ga. Ini juga salah satu langkah menuju kesuksesan elo! Terima aja, nggak usah ribut.

Iya. Ini udah dini hari, dan gue masih berkutat dengan laporan meeting tadi. Tapi yang masih di sini tinggal gue seorang. Sialan memang.

Gue Arga Gilang Wijaya. 31 tahun. Akuntan paling handal yang pernah elo kenal. Ganteng, atletis, cerdas, berwibawa... Yah, itu kata salah satu office girl kantor gue, sih. And, oh yea, no girl... Pacar nggak ada. Males aja punya. Kalau sekedar temen tidur sih banyak. Ngapain harus susah-susah punya pacar? Kagak ada waktu buat ngurusnya juga.

Well... Memang, kerjaan gue menuntut buat menjadikan kantor sebagai ‘rumah’. Gue kadang udah kayak nggak punya hidup selain di kantor. Kalau lagi benar-benar suntuk, paling mentok cabut dari kantor terus minum bareng temen-temen kantor gue. Ya gue nggak ngeluh juga sih ini sebenernya. Cuman... Dengan hidup gue yang sekarang udah kayak gini, kadang gue bingung apa yang sebenernya jadi tujuan hidup gue.

Dulu waktu masih sekolah target selanjutnya ya pasti dapet universitas bagus buat nerusin kuliah. Waktu kuliah, udah ngrancang tuh mau kerja di mana dan jadi apa. Now that I’ve reached those certain goals... I feel pointless. Hidup ya begini-begini aja siklusnya.

Jadi gue terima aja semuanya. Ya, emangnya gue bisa gimana lagiii... Gue kerja juga hasilnya udah lumayan banget. Hampir nggak pernah kekurangan. Gue harusnya bersyukur. Iya, tahu kok.

“...hello helicopter, will you be my friend? Will you take me away?” suara Justin Pierre menggema dalam ruanganku. Gue berhenti sebentar dan melamun memandang ke arah jendela kaca superbesar di ruangan ini.

Hanya ada lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, seperti bangunan yang sedang kutempati ini. Tiba-tiba gue merasa kosong. Dan tahu-tahu tangan gue udah nempel di kaca aja.

Dingin.

Gue melihat ke bawah. Mobil-mobil masih banyak berlalu-lalang. Dari atas sini kelihatan lumayan indah juga sebenarnya.

“Hello helicopter, are you listening?” tutup Motion City Soundtrack dengan syahdunya.

Menurut lo sedih nggak sih lagunya? Kok rada gue banget, ya? Hidup yang... Rather monotone. Barely had no friends. Nobody to talk to. Eh, tadi gue udah bilang kan kalo temen tidur gue banyak? Well, kenyataannya mereka semua sama aja dan nggak terlalu ngaruh dalam hidup gue. Gue sama mereka ya penyaluran nafsu semata. But, not emotionally. Never.

No one has ever been there for me, just to listen to my grumbling about how sucks my day is. Nggak ada. Lagian gue juga terlalu sibuk dengan berbagai urusan yang nggak ada habisnya. Hmmm, kalau lo nyaranin gue buat give it all a rest and settle down... No, thanks. At least, not now. Belum pengen dan belum siap juga.

Gue melihat ke arloji gue. Damn! Udah mau jam satu aja! Mending gue beres-beres sekarang daripada nanti kalau pulang kemalaman dicegat preman di jalan. Ogaaaah...

Setelah selesai beres-beres, gue segera keluar dari ruangan. Salah satu pintu lift terbuka dan gue masuk.

Gue melamun lagi di dalam lift.

“Satu hari yang cukup bangsat kembali terlewati... Yah, kayak biasa. Bunch of idiots everywhere... Setumpuk laporan yang kudu gue selesaiin dalam satu malam... Lama-lama terbiasa juga sih, tapi,” gue ngomong sendiri. Anggap aja gue ngomong sama lift ini. Melegakan juga rupanya.

Tiba-tiba ponsel gue bunyi keras banget. Setan!! Kaget! Siapa juga sih yang nelpon jam segini?

ALAMAK SI JENGGOT! BOS GUE!!!

“Ya, pak? Ada yang bisa saya bantu?”

“Gimana, laporan yang tadi saya tugaskan ke kamu sudah selesai, kan?!”

“Sudah, pak. Ini saya masih di dalam lift kantor, baru saja mau pulang...”

“Bagus, Arga! Kamu memang paling bisa saya andalkan!”

“Terima kasih, pak...”

“Karena itu saya ada tawaran promosi jabatan untuk kamu... Tapi di kantor cabang saya di Singapura. Sepertinya kamu kandidat yang paling pantas untuk jabatan itu. Bagaimana, menurut kamu??”

“HAH? Singapura, pak? Kantor cabang bapak yang paling terkenal itu? BAPAK SERIUS?”

“IYA LAH SAYA SERIUS. Kalau kamu jadi saya promosikan ke sana, kamu akan mendapat...”

TUT TUT TUT.

“...halo?? Haloooo?! Ah, SHIT!” Ponsel gue kehabisan baterai. Lampunya meredup kemudian akhirnya benar-benar mati. Bersamaan dengan itu pintu lift kembali terbuka.

“Sialan. Kalo lagi ada kabar bagus aja, mati lo! Lama-lama gue ganti hape juga!” gue sebal.

Gue cepat-cepat melangkah keluar dari lift sebelum pintu lift itu menutup lagi. Dan ternyata tak jauh di depan gue ada seorang cewek yang lagi ngeliatin gue. BUKAN, BUKAN HANTU KOK. Gue tahu cewek ini. Dia yang kerja di bangunan ini juga. Tapi gue lupa kantornya di lantai berapa.

Dia kelihatan beda malam ini. Blus yang ia kenakan sudah tidak rapi, matanya sedikit menghitam, dan wajahnya kuyu. Nggak karuan pokoknya. Dia pasti sudah capek banget. Tapi... Nggak tahu kenapa, semua yang ada pada dia itu malah membuat gue merasa...

***

My office glows all night long
It's a nuclear show and the stars are gone
Elevator, elevator
Take me home...

***




Minggu pagi. Aku mencium aroma lembut kopi dari ruang tengah. Kukenakan gaun tidurku lalu sambil menguap dan menggeliat, aku berjalan sempoyongan menuju arah aroma itu.

Arga telah duduk santai sambil membaca surat kabar langgananku. Dan sepertinya dia tak menyadari kehadiranku. Dia sudah tampak segar. Garis-garis wajahnya yang tegas itu  membuatnya tampak lebih mempesona pagi ini. Punggungnya yang lebar tampak kokoh. Ingin kudekap dia dalam pelukanku sekali lagi...

Punggungnya yang hangat dan berkeringat... Wajahnya yang begitu rupawan dan dekat... Dekat sekali dengan wajahku...

“Hei. Udah bangun ternyata?” katanya saat melihatku berdiri di depan pintu kamarku. Aku mengangguk. Kemudian aku duduk di sebelahnya.

Dia diam. Aku diam. Hening beberapa lama.

“Eh... Kayaknya aku udah harus pulang deh. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?” tanyanya. Suaranya terdengar sedikit canggung. Aku maklum. Dia sepertinya juga sama seperti aku, bingung harus bagaimana.

Aku masih diam.

***

Heh, ini cewek kenapa malah diem aja?? Jawab kek! Udah gitu dia keliatan cantik banget, lagi, pagi ini... Daaamn... Gaun tidurnya... Rambut panjangnya yang lembut...

Shut up, Ga! Semuanya cuman bakal sampai di sini aja. Jadi memang kudunya lo segera cabut. Kenapa nggak dari tadi aja sih waktu dia belum bangun? Nah, dia sekarang malah bengong tuh... Buruan ngomong dong, Son! Awkward banget ini!!

Tiba-tiba Sonya melingkarkan tangannya ke pinggang gue. Gue kaget, tapi tetap diam. Masih nunggu dia bicara. Gue lirik wajahnya. Matanya terpejam.

“Nanti aja pulangnya... Ini kan hari Minggu,” gue menatap dia, mencoba memastikan apakah dia serius atau hanya basa-basi. Kedua matanya membuka dan balas menatap gue. Gue kok jadi salah tingkah gini ya?!

“Ya?” tanyanya pelan. Dan gue mengangguk. Jantung gue berdebar kencang. Sonya mengencangkan pelukannya lagi. Kali ini gue bales meluk dia.

Iya, Son. Gue nggak pulang. Gue di sini. Gue pengen di sini...

***

Don't go, say you'll stay
Spend a lazy sunday in my arms
I won't take anything away
Don't go, say you'll stay
Spend a lazy sunday in my arms
Don't take anything away


#nowplaying Elevator Love Letter - Stars

Selasa, 11 Desember 2012

Qing Fei De Yi

Masih mau percayakah kalian pada seseorang yang telah mendapat cap 'playboy' di masyarakat? Meet Rudy. Maybe the best player in his highschool. Oke, dia memang berparas lumayan. Trendy, up to date, and else. Dan memang akan selalu ada tipe orang macam ini back to the highschool era, huh?

Entah sudah berapa kali dia ganti pacar. Sudah berapa bibir ia lumat. Sudah berapa tubuh ia peluk dan gerayangi. Dan gadis-gadisnya tak pernah bisa menolak apa yang ada pada Rudy. Dia seperti magnet untuk para gadis. Ditambah, ia gemar berkelahi dan anggota resmi sebuah gank motor yang kerap mengadakan balapan liar. Makin tambah lah nilai plus Rudy di mata perempuan.

Yang orang-orang tak tahu... Ia adalah seorang pecundang perasaan. He's forever in love with his next door neighbor. Namanya Rara. Sahabat masa kecil Rudy. Semenjak masuk SMA, mereka jarang bermain bersama lagi. Sibuk dengan urusan masing-masing. Rudy, sibuk dengan para gadisnya, tentu saja. 

Rudy akan selalu ingat pada suatu malam saat ia dikeroyok sekumpulan musuhnya. Ia sendiri melawan lima orang. Kepalanya mengucurkan darah. Beberapa tulangnya patah, dan yang pertama muncul di kepalanya hanya Rara. Ia langsung menghubungi gadis itu.

"Ra..."
"Iya, Rud? Selarut ini nelpon, ada apa?"
"Hehe.. Ngga papa. Ini gue habis dikeroyok 5 orang. Sakit. Hehehe..."
"LO DI MANA?"
"Eh, gue ngga papa kok..." 
"RUD, CUT THE CRAP! BILANG AJA LO DI MANA SEKARANG!"
"Sante, Ra... Ini gue di Gang Tulip."
"Gue berangkat!"
"HAH! Lo gila, Ra?! Ini udah jam setengah satu, geblek!"
"Jaga diri lo bentar."
"Heh! Ra! Ngga usah gila lo! Ra!! Rara!!!!"

Dan 15 menit kemudian Rara menemukan Rudy terkapar sambil menahan sakit. Tapi ia tidak sedikitpun memarahi Rudy. Ia bersihkan luka Rudy dengan hati-hati. Saat itu, jantung Rudy berdebar hebat. Ia sayang sekali pada gadis di depannya itu.

"Lo sarap ya, Ra? Kalo lo diculik di jalan gimana tadi?"
"Ngeledek lo. Gue bisa jaga diri. Lo tuh yang ngga bisa."
"Hehehe.. Aww! Ati-ati, Ra!"
"Udah selese, ayo pulang. Lo bawa motor, Rud?"
"Kagak..."
"Bagus, nebeng gue aja. Gue bawa mobil kakak gue"
"Dasar kriminal..."
"Diem aje lu!"

Sesampainya di rumah, Rara membantu Rudy berjalan. Rudy mencium aroma tubuh Rara diam-diam. Jantungnya tak henti berdetak kencang dari tadi. Ahhhh, Ra. Kapan gue berhenti jadi pengecut gini... Kata Rudy dalam hati.

"Udah. Lo istirahat, minimal 3 hari ini sih. Kagak usah ngeyel!"
"Iyee Bu.. Gue mah mau-mau aja bolos 3 hari..."
"Yaelah jitak nih!"

Ketika Rara hendak pergi meninggalkan Rudy. Tiba-tiba saja Rudy menahannya. Rara menatap Rudy bingung.

"Makasih ya, Ra... Really, I can't thank you enough..."
"Halah apaan sih lo. Iyaa sama-sama. Yaudah gue pulang ya!"
"Ra..."
"Apalagi?"
"Gue sayang banget sama elo."
"Haaa? Gue juga sayang sama lo kok, Rud. Lo mabok ya tiba-tiba bilang gitu?"
"Gue sadar banget lagi, Ra."
"Trus?"
"Ya udah gitu aja sih, hahaha. Pulang sana!"
"Idih! Ngusir!"
"Iye gue ngusir, huss! Pergi buru!"
"Hih dasar!"

Kemudian Rara pulang, meninggalkan Rudy yang babak belur. Baik rupa, maupun hatinya.

"Gue terlalu sayang sama elo, jadi gue ngga akan ngebiarin cowok bajingan ini bikin nangis elo, Ra. Gue yang hina ini ngga pantes... Mungkin bakal selamanya gue jadi loser kayak gini. Dipecundangi hati sendiri. Tapi itu jauh lebih baik. Lo deserve much more better, Ra... Kalo emang takdir gue begini, ya gimana lagi. Toh dengan gini gue malah bisa jagain elo, Ra. We're gonna be bestfriends forever."

Itu adalah kalimat tak terucapkan untuk Rara. Yang Rudy pendam. Ia dekap dekat dengan hati. Seorang bangsat dan bajingan seperti Rudy, malam itu menangis karena rasa perih dalam dadanya. Rasa perih karena Rara.
I could hardly breathe. I cherish your innocence. So when I see you suffering, I'm sad with you...

Begitu, rasa sayang yang teramat besar dari Rudy untuk Rara.

I'm just afraid of falling in love with you...

Dan malam itu, Rara tak bisa menutup matanya untuk kemudian jatuh tertidur. Entah mengapa ia merasa gelisah, ada yang aneh dengan hatinya.

Hi pa wo zi ji hui ai shang ni
Ye xu you tian hui qing bu zi jin
Xiang nian zhi rang zi ji ku le zi ji
Ai shang ni shi wo qing fei de yi
I just can't help falling in love with you...

Minggu, 11 November 2012

Tunggu...

Aku: Biarkan aku pergi, jauh dan tak kembali. Lepaskanlah aku.
Kamu: Tunggu... Sebelum aku mengabulkan permintaanmu, ada satu yang ingin kutanyakan.
Aku: Apa itu?
Kamu: Apa kamu menjamin dirimu akan bahagia, setelah aku melepasmu nanti?
Aku: ....
Kamu: And?
Aku: I'm not quite sure...
Kamu: Then, I'm not going to let you go. I don't want to lose you.

Sabtu, 10 November 2012

Terima Kasih, Kamu

"Sudah, tidak usah kamu lanjutkan dukamu itu. Masih ada aku untukmu, selalu," katanya sambil mengelus lembut rambutku yang acak-acakan. Aku mendongak untuk menatapnya. Ia tersenyum padaku. Tiba-tiba saja aku merasa malu sekali, wajahku sedang kusut terbasuh airmata. Lalu aku berpaling dan mengusap-usap airmata yang masih tersisa.

"It's just so frustrating, you know?" kataku tersendat. Ia masih mengelus pelan rambutku. "Well, perhaps I don't know, darling. Tapi satu yang aku tahu, ketika kamu jatuh 3 kali, selalu bangkitlah untuk yang ke-4 kali dan selanjut-selanjutnya," katanya. Dan tanpa menatap wajahnya yang teduh aku tahu ia sedang tersenyum manis sekali.

Sejuk. Aku tidak tahu bagaimana, tapi adanya dia di sini, di sampingku, selalu membuat hati dan pikiranku damai sekali, walaupun aku baru saja merasa diremukredamkan semesta. Dia selalu punya this positive atmosphere around him. 

And the way he talks, and laughs... God, I'm in love forever with his mumbling and giggles.

"Just... Give me your hug and I'll be alright for now," ujarku kemudian. Toh aku akan selalu baik-baik saja selama kamu ada di sisi, aku tersenyum dalam hati. 

Ia tertawa, kemudian merengkuhku ke dalam satu pelukan panjang dan hangat. 

I know someone standing forward in his believe in
The most person with a big hope and strength
And a part of him has grown in me
Inspired my whole life
He brings me to a new vision of life.. As time goes by
. --Endah N Rhesa

Sabtu, 03 November 2012

Kamu dari Masa Lalu

Hari yang biasa saja di kampus. Kecuali bagian di mana ada kamu. Kamu memang masih selalu istimewa. Sampai sekarang aku masih suka diam-diam memperhatikanmu tertawa dari kejauhan. Ah, apa yang dulu kita lakukan bersama.

Bagaimana kabarmu sekarang? Aku terlalu pengecut untuk bertanya langsung padamu. Sehingga hanya mampu membisikkan rindu pada angin, menitipkan salam pada senja, juga meneriakkan rasa pada cakrawala. Semoga kesemuanya tersampaikan. 

Semenjak hari kita memutuskan untuk menunggalkan satu sama lain, masih selalu kamu yang ada dalam pikiranku. Apakah kamu juga begitu? Atau kini dia? Sekali lagi, sebuah tanda tanya bagiku.

Kamu cerdas, ia begitu pintar. Kamu rupawan, ia ayu mempesona. Kamu tegas dengan pendirianmu, ia pemegang prinsip yang kuat. Sedari dulu memang sebenarnya aku tak pernah punya tempat, kan? Mungkin saja aku tertakdir untuk menyatukanmu dengannya. Mungkin saja aku...

Aku memang seseorang yang begitu malang dan menyedihkan. Masih saja tahan terus berjalan di bawah naungan masa lalu. Masa lalu yang kerap menyakitiku. Masa laluku, dan kamu. Namun yang lebih menyakitkan lagi adalah, bagaimana kamu kini telah berhasil melepaskan diri dari jeratan masa lalu tentangku sejak lama. Mungkin, lama sekali.

Tak ingin aku menyangkal harapan yang masih ada. Secercah kecil yang sampai sekarang menjadi alasanku masih saja betah berlama-lama mendoakanmu. Iya, tentu saja diam-diam. Tahukah kamu, betapa sesungguhnya aku berharap kamu lah yang akan menyelamatkanku dari masa lalu, sekali lagi seperti dulu?

Menyelamatkanku dari bayang-bayangmu sendiri.

Because maybe... You’re gonna be the one that save me. --Oasis
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates